Gula Rafinasi Impor Masih Marak, BUMN Ini Salahkan Dua Kementerian

Kompas.com - 12/05/2014, 09:02 WIB
Menteri BUMN Dahlan Iskan, saat membuka giling tebu perdana di Pabrik Gula (PG) Krebet Baru, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Minggu (11/5/2014). KOMPAS.com/Yatimul AinunMenteri BUMN Dahlan Iskan, saat membuka giling tebu perdana di Pabrik Gula (PG) Krebet Baru, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Minggu (11/5/2014).
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

MALANG, KOMPAS.com - Keberadaan gula rafinasi yang terus menyerbu pasar tradisional di Indonesia, jelang musim giling yang akan dimulai pada 25 Mei mendatang. Hal ini menjadi ancaman bagi pabrik gula dan juga para petani tebu.

Ironisnya, maraknya gula rafinasi dipasar tradisional itu adalah kebijakan dua menteri. Yakni Menteri Perdagangan dan Menko Perekonomian.

"Kebaradaan gula rafinasi pada musim giling saat ini, masih jadi ancaman bagi pabrik gula dan petani tebu. Karena harga gula rafinasi lebih murah dibanding gula kita," jelas Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), Ismed Hasan Putro, kepada Kompas.com, ditemui saat hadir dalam acara pembukaan giling di Pabrik Gula Krebet Baru, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Minggu (11/5/2014).

Menurut Ismed, Menteri Perdagangan dan Menko Perekonomian jelas tak memihak dan tak peduli pada pabrik gula dan petani tebu. "Pada tahun 2014 tantangan gula cukup berat. Terutama sisi harganya. Karena pemerintah menetapkan harga gula kita tidak boleh diatas Rp 8.500. Sementara Gula rafinasi masuk tanpa kontrol," tegasnya.

Misalnya, keberadaan gula rafinasi diimpor sebanyak 2 juta ton lebih pertahunnya. "Padahal komitmen awal pemerintah mendukung swasembada gula. Tapi pada April lalu, pemerintah mau ditekan untuk membuat regulasi gula rafinasi sebanyak 2 juta ton lebih pertahunnya. Itulah realitas saat ini," katanya.

Ismed mengungkapkan, pelakunya adalah Menteri Perdagangan dan Menteri Perekonomian. "Jangan mimpi sekarang kita akan dibela dan akan diperjuangkan. Karena yang dibela pembeli gula. Apakah gula rafinasi dan gula lainnya. Itu tidak peduli. Itulah realitas pemerintah saat ini," katanya.

Dalam kesempatan itu, Ismed juga menjelaskan, bahwa dalam sejarahnya, PG Krebet Baru Malang pernah punya rendemen 13 pada tahun 1960-1970-an. "Melihat historis itu, target kita kedepan harus bisa mencapai rendemen 13. Komitmennya harus memiliki kinerja yang baik," harapnya.

Sementara, untuk musim tebang tebu, rendemen (perbandingan kadar gula dalam tebu) pada 2012 mencapai 9,2. Pada tahun 2013 7,6. Pada tahun 2014 rendemennya mencapai 9. "Rendemen 9 itu, sudah terbaik di pulau Jawa, baik untuk pabrik swasta dan BUMN. Kita terbaik terus," akunya.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X