Kompas.com - 29/05/2014, 08:48 WIB
Pengendara mengisi bahan bakar untuk kendaraannya di SPBU di Kuningan, Jakarta, Minggu (21/10/2012). KOMPAS/HERU SRI KUMOROPengendara mengisi bahan bakar untuk kendaraannya di SPBU di Kuningan, Jakarta, Minggu (21/10/2012).
|
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com - Permasalahan harga dan subsidi bahan bakar minyak (BBM) masih menjadi perkara pelik yang dihadapi Indonesia. Impor BBM yang besar akibat besarnya permintaan membuat defisit transaksi berjalan atau current account deficit sulit ditekan.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Hendri Saparini, mengatakan, kebijakan kenaikan harga BBM menjadi tantangan baik bagi pemerintahan incumbent maupun pemerintahan yang akan datang. Sebab, kenaikan BBM "ongkos"nya dinilai mahal.

"Memang ini jadi tantangan kalau Presiden sekarang rasanya akan sulit untuk menaikkan harga BBM, karena nanti tidak khusnul khotimah (mengakhiri pemerintahan dengan kondisi baik). Karena ini detik-detik terakhir pasti akan bertahan untuk tidak menaikkan BBM," kata Hendri di Jakarta, Rabu (28/5/2014).

Hendri menjelaskan, harga yang harus dibayar akibat kenaikan BBM sangat mahal. Bahkan, dampak kenaikan BBM pada bulan Juli tahun 2013 lalu belum pulih hingga saat ini, atau kuartal I 2014.

"Kemudian kalau kemarin tidak dinaikkan dengan suku bunga acuan BI, inflasinya akan capai 9 persen. Artinya ongkos itu mahal," ujar dia.

Akan tetapi, Hendri memandang kondisi yang terjadi di masyarakat tidak memungkinkan untuk mengurangi apalagi menghapus subsidi BBM. Ini karena permintaan akan BBM yang terus meningkat seiring dengan peningkatan jumlah kendaraan bermotor.

"Kalau kita melihat subsidi BBM tidak berkurang karena konsumsinya tidak turun. Upaya untuk mengurangi impornya juga tidak dilakukan," papar Hendri.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email



25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X