Di Akhir Masa Jabatan, Mentan Merasa Masih Ada Waktu Sejahterakan Petani

Kompas.com - 12/07/2014, 14:33 WIB
Petani merawat tanaman kentang mereka yang berada di lereng-lerang bukit di Desa Tieng, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Selasa (20/12/2011). Intensifnya pengolahan kebun kentang di kawasan tersebut menyebabkan kerusakan lingkungan yang parah dengan tingkat erosi tanah yang tinggi serta rawan longsor. KOMPAS / RADITYA MAHENDRA YASAPetani merawat tanaman kentang mereka yang berada di lereng-lerang bukit di Desa Tieng, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Selasa (20/12/2011). Intensifnya pengolahan kebun kentang di kawasan tersebut menyebabkan kerusakan lingkungan yang parah dengan tingkat erosi tanah yang tinggi serta rawan longsor.
Penulis Yoga Sukmana
|
EditorSandro Gatra


JAKARTA, KOMPAS.COM
– Menteri Pertanian Suswono menilai saat ini para petani Indonesia masih terbelenggu oleh kemiskinan struktural. Meski demikian, di akhir masa jabatannya, Suswono meyakini masih ada kesempatan bagi pemerintah untuk menyejahterakan para petani yang hidup adalam kemiskinan.

“Perlu ada kemauan politik yang besar dan dukungan anggaraan yang memadai (untuk mengentaskan kemiskinan). Kalau ditunjang dengan ini, saya yakin kita bisa. Kita negara adhi profit, matahari bersinar setiap hari, subur tanahnya,” ujar Suswono ketika acara buka puasa bersama di rumah dinasnya di Jakarta, Jumat (11/7.2014).

Suswono menilai kedua calon presiden, yakni Joko Widodo dan Prabowo Subianto sudah memiliki semangat kedulatan pangan dengan ingin memberikan lahan kepada para petani. Ia menilai wacana memberikan 2 juta hektar lahan kepada petani merupakan hal yang realistis

Namun, kata dia, rencana tersebut bukan berarti tidak memiliki hambatan. Menurut politisi Partai PKS tersebut, berdasarkan data Badan Pertanahan Negera (BPN), dari 7,2 juta hektar tanah terlantar, baru 13 ribu hektar tanah yang bisa dimanfaatkan. Hal tersebut, menurut dia, fakta bahwa akses pemerintah untuk menfaatkan tanah terlantar masih sulit.

“Ada semangat (dari dua capres) untuk penambahaan luas tanah. Tinggal bagaimana implementasi, harus kuat karena faktanya 7,2 juta hektar tanah terlantar, tapi kita tak bisa mengakses. BPN mendata, yang potensial hanya 4,2 juta hektar, tapi yang clear and clear hanya 13 ribu hektar. Ini kan tandanya enggak mudah mengakses lahan-lahan tersebut,” katanya.

Oleh kerena itu, untuk mengurai akar masalah akses tersebut, menurut Suswono, presiden baru nanti harus memiliki kemauan politik yang besar dan dukungan anggaran yang memadai.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X