Kompas.com - 14/07/2014, 08:53 WIB
EditorErlangga Djumena


KOMPAS.com -
Tumbuh di lingkungan tempat tinggal yang menjadi pusat kerajinan besi cor di Desa Batur Jaya, Klaten, Jawa Tengah, membuat Hanif Wahyudi terbiasa dengan aktivitas pengecoran besi. Orang tua Hanif pun menjadi salah satu produsen alat-alat pertanian dan rumah tangga dari logam di daerah tersebut.

Usaha orang tua Hanif kala itu masih industri rumahan, yang berdiri sejak 1968. Sebagai penerus usaha sang ayah, Hanif memang sudah sangat tertarik untuk berkecimpung di dunia usaha pengecoran besi. Namun lantaran masih harus bersekolah, Hanif masih belum bisa membantu sang ayah menjalankan usaha.

Setelah tamat SMA, Hanif sempat melanjutkan sekolah di Universitas Islam Indonesia di Yogyakarta. Namun, keinginan yang begitu kuat untuk bisa segera terjun ke dunia usaha dan mengelola bisnis ayahnya, membuat Hanif memutuskan berhenti kuliah. "Saya adalah anak pertama dan merasa terpanggil untuk membantu usaha keluarga," kata dia.

Keputusan itu tidak membuatnya menyesal. Buktinya kini usaha rumahan sang ayah telah berkembang menjadi perusahaan terbatas (PT) yang mampu menghasilkan omzet ratusan juta per bulan. Lewat bendera usaha PT Aneka Adhilogam Karya,  Hanif memproduksi alat penyambung pipa (pipe fitting) yang terbuat dari besi, manhole untuk penutup gorong-gorong, dan soket pipa dan suku cadang logam lainnya.

Pabriknya berada di Klaten itu memiliki 80 orang karyawan untuk kegiatan produksi. Dengan mengusung merek AKA, dalam sebulan pabriknya bisa memproduksi 150 ton sambungan pipa dengan berbagai jenis dan ukuran.

Harga jual produknya di pasaran cukup bervariasi. Sambungan pipa besi dengan ukuran kurang dari 5 kilogram (kg) misalnya, seharga Rp 50.000 per unit. Ada juga sambungan pipa untuk industri migas seberat 600 kg dihargai Rp 10 juta per unit. Harga jual tergantung diameter pipa serta material bahan bakunya.

Dalam sebulan, pria berusia 47 tahun itu mengaku bisa menghasilkan omzet sebesar Rp 250 juta. Bahkan jika menang tender, omzetnya bisa jauh lebih besar. Biasanya dengan omzet sebesar itu, laba bersih yang diambil sekitar 5 persen-10 persen.

Dia bercerita memiliki pelanggan rutin dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di banyak kabupaten di seluruh Indonesia. Dia juga memasok produk ke perusahaan energi seperti Perusahaan Gas Negara (PGN), perusahaan konstruksi seperti Wijaya Karya, juga perusahaan pipa seperti Maspion dan Wavin. "Produk-produk kita sering digunakan untuk proyek pemerintah dan swasta. Mereka pasang instalasi pipanya, kita yang sediakan penyambungnya, " kata Hanif.

Untuk proyek-proyek besar, biasanya Hanif mengikuti tender pengadaan barang terlebih dahulu. Namun jika ada orang yang membeli secara ritel tetap dia layani. Saat ini pasar yang dia sasar baru pasar domestik. Meski begitu, pelanggannya kini sudah tersebar di berbagai daerah seperti di Jakarta, Bandung, Surabaya, Palembang, Klaten, Bali dan Lombok. Rata-rata para pemesan produknya adalah pemerintah provinsi setempat. (Rani Nossa)

baca juga: Bermodal Rp 800.000, Pemuda Ini Kini Raup Omzet Rp 800 Juta

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Video Pilihan

Sumber
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.