Kasus Daging Celeng Tangerang Ditangani Kepolisian

Kompas.com - 16/07/2014, 11:39 WIB
Ilustrasi: Ada saja kecurangan yang dilakukan para penjual daging  untuk menipu para konsumen dengan menjual daging celeng (babi hutan). Seperti yang dilakukan KTJ alias S (57) warga Kapuk Muara, Penjaringan, Jakarta Utara yang telah sengaja melakukan usaha mengedarkan dan menjual daging celeng atau babi hutan tanpa ijin. KOMPAS.com / Dian Fath Risalah El AnshariIlustrasi: Ada saja kecurangan yang dilakukan para penjual daging untuk menipu para konsumen dengan menjual daging celeng (babi hutan). Seperti yang dilakukan KTJ alias S (57) warga Kapuk Muara, Penjaringan, Jakarta Utara yang telah sengaja melakukan usaha mengedarkan dan menjual daging celeng atau babi hutan tanpa ijin.
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

JAKARTA, KOMPAS.com – Dari sekitar 80 tempat penjualan daging di Jabodetabek, Kementerian Perdagangan mengambil 15 contoh atau sampel yang diuji laboratorium. Hasilnya, hanya satu tempat jualan yang terbukti menjual daging celeng, yakni di Tangerang.

“Dari pendalaman itu, 15 contoh kita uji lab, sedangkan lainnya hanya dengan keterangan dan meyakinkan bahwa itu bukan daging celeng. Dari 15 yang belum kita yakini itu, ternyata ada 1 yang terbukti bukan daging sapi. Tetapi hanya sedikit, paling hanya sekitar setengah kilogram,” kata Bayu saat inspeksi ke Lottemart, Kelapa Gading, Jakarta, Selasa (15/7/2014).

Oknum pedagang yang mencampur daging sapi dengan daging celeng itu, kata Bayu, mengaku tidak mengetahui bahwa yang dijualnya adalah daging celeng. Hal tersebut ditengarai lantaran kurangnya pengetahuan pedagang daging untuk membedakan jenis-jenis daging.

“Yang jual itu pedagang kecil. Sekarang sedang diproses di Tangerang, diproses oleh polisi dan kita dampingi. Yang penting kita sudah dapat mencegah. Meski kita kita belum tahu 100 persen steril atau tidak, tetapi info di lapangan karena pengawasan ini pemasoknya sudah tidak ada. Tapi biasanya mereka datang dari Sumatera Selatan,” ujarnya.

Lebih lanjut Bayu menjelaskan, daging celeng yang dijual di Tangerang berasal dari Sumatera bagian selatan. Daging celeng tersebut didistribusikan lewat Bakauheni,dengan jalan darat.

Menurut Bayu, lantaran daging celeng diperoleh dengan cara berburu, maka peredarannya pun diyakini tidak banyak. Sebenarnya lagi, kata Bayu, perdagangan daging babi tidak dilarang. Yang dipermasalahkan dalam hal ini adalah penipuan.

“Jadi bukan karena celeng-nya. Tapi karena ini daging celeng, tapi dikatakan bahwa ini daging sapi,” tegas Bayu. Dengan demikian, Kementerian Perdagangan juga berpesan kepada masyarakat untuk tidak tergiur harga murah.

“Ada yang bilang daging babi ternakan dan sapi ada selesih harga Rp 10.000-Rp 20.000 per kilogram. Jadi kita sarankan kalau beli daging beli dari pedagang yang sudah dikenal dan berada didalam pasar. Jadi kita bisa bertanya,” tukasnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X