Tiga Cara untuk Menyelamatkan Malaysia Airlines

Kompas.com - 27/07/2014, 13:10 WIB
Sebuah pesawat Malaysia Airlines diparkir di bandara internasional Kuala Lumpur, Malaysia (19/7/2014). ReutersSebuah pesawat Malaysia Airlines diparkir di bandara internasional Kuala Lumpur, Malaysia (19/7/2014).
|
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com
– Malaysia Airlines mengalami dua kecelakaan fatal dalam keselamatan penerbangan selama 68 tahun terakhir dalam enam bulan pertama tahun 2014. Pesawat Malaysia Airlines MH370 hilang pada Maret lalu, dan pada bulan ini pesawat MH17 ditembak jatuh di zona perang Ukraina.

Seperti dilansir dilansir Business Insider, Jumat (25/7/2014), presiden organisasi berita penerbangan Airchive, Chris Sloan, menilai, sangat langka satu maskapai tertimpa dua bencana dalam periode waktu yang singkat.

Predikat Malaysia Airlines sebagai salah satu maskapai dengan keselamatan terbaik musnah setelah kejadian tersebut. Kinerja keuangan maskapai suram, padahal Pemerintah Malaysia menjadi pemegang saham mayoritas melalui perusahaan induknya, Penerbangan Malaysia Berhad.

Sudah banyak dana talangan yang dikucurkan. Laporan Businessweek, dalam 3 tahun terakhir Malaysia Airlines merugi 1,2 miliar dollar AS. Dan menurut CAPA Centre for Aviation, Malaysia Airlines kehilangan lebih dari 140 juta dollar AS pada kuartal pertama tahun ini saja, dengan bisnis turun 59 persen. Dengan kata lain, maskapai ini belum menguntungkan selama bertahun-tahun.

Malaysia Airlines tidak mungkin meraup laba dalam waktu dekat. Rebranding, nasionalisasi, dan merger tampaknya menjadi pilihan Malaysia Airlines menata masa depan, menyelamatkan kepercayaan konsumen, dan membalikkan keadaan.

"Rebranding"
Sebuah solusi potensial hanyalah mengubah citra maskapai. Mengubah perusahaan dengan peluncuran logo baru. Strategi ini berhasil baik untuk ValuJet dan Swissair, meskipun dalam keadaan yang berbeda.

Pada saat rebranding, ValuJet adalah sebuah maskapai penerbangan dengan 15 armada yang mulai menua, jet jarak pendek seri DC-9 / MD-80. Malaysia Airlines, di sisi lain, berusia hampir 70 tahun, dengan armada 100 pesawat, mulai dari Boeing 737 sampai Airbus A380.

Sebagai flag carrier Malaysia, maskapai ini juga merupakan simbol identitas nasional, sebagai duta terbang negara. Rebranding Swissair juga menawarkan beberapa paralel. Swissair, dikenal dengan layanan berkualitas tinggi dan kinerja keuangan yang kuat, disebut sebagai "bank terbang" selama bertahun-tahun. Namun, pada akhir 1990-an, setelah satu dekade pengambilan keputusan keuangan yang buruk, maskapai penerbangan nasional Swiss ini menghadapi utang besar.

Situasi keuangan suram diperparah oleh kecelakaan penerbangan 111 di lepas pantai Nova Scotia pada tahun 1998. Pada tahun 2001, perusahaan mengumumkan harus melikuidasi aset-asetnya. SWISS International Airlines muncul, dan sejak itu telah dinilai sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Keberhasilan SWISS menunjukkan sangat mungkin mengubah citra flag carrier dan memulihkan finansial.

Namun, SWISS memiliki dua keuntungan yang tidak dimiliki Malaysia Airlines, yakni indeks kepercayaan konsumen, serta tradisi penerbangan. Kepercayaan konsumen Swissair tidak fatal ternoda oleh masalah perusahaan, dan tradisi penerbangan Swiss juga mapan.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X