Sosialisasi Aturan Ekspor Batubara Diwarnai Protes Perusahaan Tambang

Kompas.com - 08/08/2014, 01:22 WIB
Ilustrasi batu bara KOMPAS/ADI SUCIPTOIlustrasi batu bara
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

JAKARTA, KOMPAS.com - Sosialisasi Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No.39/M-DAG/PER/7/2014 tentang Ketentuan Ekspor Batubara dan Produk Batubara, diwarnai oleh penolakan dari sejumlah pengusaha yang mengantongi Izin Usaha Pertambangan (IUP).

Beberapa perusahaan tambang batu bara besar seperti PT Adaro Energy Tbk, PT Bukit Asam Tbk melayangkan kritik atas peraturan itu, dan meminta agar beleid ini dikaji. Perusahaan tambang mengeluhkan sosialisasi yang sangat mendadak, serta tenggat yang diberikan pemerintah agar para pengusaha mengantongi status Eksportir Terdaftar (ET), sangat mepet.

Plt Direktur Ekspor Industri dan Pertambangan, Kementerian Perdagangan, Thamrin Latuconsina mengatakan, perusahaan tambang harus berstatus ET pada 1 September 2014. "Pengakuan sebagai ET ditetapkan oleh Dirjen Perdagangan Luar Negeri," katanya dalam sosialisasi yang diselenggarakan di Hotel Aryaduta, Kamis (7/8/2014).

ET tersebut berlaku 3 tahun dan bisa diperpanjang. Adapun syarat untuk mengajukan ET antara lain, melampirkan fotokopi IUP operasi produksi, IUPK operasi produksi dan penjualan, atau IUP operasi produksi khusus untuk pengolahan dan pemurnian. Selain itu, perusahaan juga wajib melampirkan Nomor Pokok Wajib Pajak, fotokopi Tanda Daftar Perusahaan (TDP), yang direkomendasikan Kementerian ESDM.

Salah satu pengusaha tambang yang juga merasa sosialisasi ini sangat mepet adalah PT Penajam Prima Coal. Lailatul, accounting Penajam mengatakan, waktu yang diberikan untuk menjadi ET sangatlah mepet. Padahal, mereka sudah harus mengekspor batubara pada 25 Agustus 2014.

"Sebetulnya bukan menolak. Tapi ditunda dikit lah. Soalnya Permendag ini kan mendadak juga, 14 Juli kan," ujarnya.

Laila khawatir dengan ratusan perusahaan tambang yang mengurus ET, pihaknya tidak akan terlayani hingga 1 September, meski Kementerian Perdagangan menjanjikan selesai dalam 5-10 hari. Jika batubara tidak segera diekspor, Laila bilang, perusahaan terancam terkena demorage (denda). "Dendanya, 10.000 dollar AS per satu vessel per hari," tandasnya.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.