Kompas.com - 09/08/2014, 22:17 WIB
EditorErlangga Djumena

Gemar menggambar adalah salah satu modal Ririn untuk membuat corak pada batik dan mendesain sendiri busana yang hendak dipasarkan.

Ririn memilih pewarna dengan bahan alami karena dirinya yang asli Jombang alergi pewarna sintetis. Menggunakan pewarna alam memang lebih repot dalam proses dan butuh waktu. Namun, secara penampilan lebih anggun dan lebih eksklusif.

Batik jombangan yang dikembangkan pun motifnya tidak jauh dari kekhasan ”Kota Santri” itu, seperti relief di Candi Arimbi, Bareng, Jombang. Motif itu bahkan sudah dipatenkan Pemkab Jombang. Motif itu kini menjadi corak batik seragam pegawai negeri dan swasta hingga pelajar di Jombang. Corak batik pun tak melulu khas Jombang, ada juga corak kontemporer dan klasik, bahkan melenceng dari pakem karena sesuai selara konsumen.

Pembuatan batik tulis lebih banyak mengandalkan warna alami dan memanfaatkan limbah kayu. Pengolahan dilakukan di Desa Jati Pelem, Kecamatan Diwek, Jombang. Usia limbah kayu berefek pada kualitas warna yang muncul di kain. Bahan baku tersebut berlimpah dan lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan jika menggunakan zat kimia.

Menurut ibu dari Farel (15) dan Fais (8) ini, dia tak pernah berhenti melakukan eksperimen dari berbagai jenis tanaman untuk mencari warna alami baru bagi produk batiknya. Bahan baku tanaman untuk pewarnaan kain haruslah dari tanaman kayu bergetah.

Kayu tanaman direbus beberapa jam sehingga bisa memunculkan warna seperti jolawe (bahan untuk jamu), warna indigo dari kayu secang dan mahoni, rosela, serta kunyit. Untuk mendapatkan warna berkualitas, kain direbus sekitar dua jam, dicuci, dikeringkan, kemudian dibatik. Pewarna alam, walau bisa luntur, tidak menempel pada kain lain dan tidak akan pudar.

Variasi warna yang dihasilkan oleh bahan pewarna alam kurang begitu banyak, tetapi perajin batik yang kreatif bisa mengatasi dengan melakukan kombinasi.

Menurut Ririn yang juga menimba ilmu corak dan pewarnaan batik di Balai Besar Batik Yogyakarta, harga produk batiknya paling murah Rp 1,5 juta karena kain batik diproses dengan alat tenun bukan mesin (ATBM) sehingga bukan hanya pencelupan warna yang memakan waktu lama, menenunnya juga butuh waktu.

”Jadi, tidak mungkin diproduksi secara massal karena ada kain batik yang proses sampai bisa dipakai butuh waktu setahun. Soalnya, coraknya rumit dan banyak warna. Faktor ini membuat produk terkesan mahal dan eksklusif,” kata lulusan Universitas Widyagama, Malang, itu.

Karena proses produksi panjang, rata-rata sebulan Ririn hanya bisa memproduksi 200 lembar batik. Batik tulis Jombang ini sudah memiliki pelanggan setia. Pasar produk ini masih sangat terbuka dan kian disegani. Paling penting, bahan baku untuk pewarnaan kain batik masih berlimpah karena umumnya berupa limbah tanpa perlu impor. (Agnes Swetta Pandia)
baca juga: Berkat Rumah Sunatan, Mahdian Jadi Dokter yang Wirausahawan

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sri Mulyani: Subsidi BBM Rp 520 Triliun Banyak Dinikmati Orang Kaya...

Sri Mulyani: Subsidi BBM Rp 520 Triliun Banyak Dinikmati Orang Kaya...

Whats New
Untuk Ketiga Hari Berturut-turut, IHSG Kembali Ditutup Merah

Untuk Ketiga Hari Berturut-turut, IHSG Kembali Ditutup Merah

Whats New
PPSKI Pertanyakan Kevalidan Data Penyebaran Wabah PMK Milik Pemerintah

PPSKI Pertanyakan Kevalidan Data Penyebaran Wabah PMK Milik Pemerintah

Whats New
Kini Buka Akun Bank Raya Bisa Lewat Aplikasi BRImo

Kini Buka Akun Bank Raya Bisa Lewat Aplikasi BRImo

Whats New
BNI Sekuritas Targetkan IHSG Tembus Level 7.600 Sampai dengan Akhir Tahun

BNI Sekuritas Targetkan IHSG Tembus Level 7.600 Sampai dengan Akhir Tahun

Whats New
Tangani Wabah PMK, Mentan SYL Luncurkan Gerakan Disinfeksi Nasional

Tangani Wabah PMK, Mentan SYL Luncurkan Gerakan Disinfeksi Nasional

Whats New
Melalui MyPertamina, BPH Migas Harap Penyaluran Solar-Pertalite Lebih Terkontrol

Melalui MyPertamina, BPH Migas Harap Penyaluran Solar-Pertalite Lebih Terkontrol

Whats New
Biar Tak Cuma “Numpang” Lewat, Sisihkan Gaji untuk 3 Aktivitas Berikut

Biar Tak Cuma “Numpang” Lewat, Sisihkan Gaji untuk 3 Aktivitas Berikut

BrandzView
Home Credit Raih Pembiayaan Barang Rp 710 Miliar Selama Ramadhan

Home Credit Raih Pembiayaan Barang Rp 710 Miliar Selama Ramadhan

Whats New
Bank Mayapada Angkat Miranda Goeltom Jadi Wakil Komisaris Utama

Bank Mayapada Angkat Miranda Goeltom Jadi Wakil Komisaris Utama

Whats New
Pekerja Migran Indonesia Makin Mudah Ambil dan Kirim Uang dari Luar Negeri

Pekerja Migran Indonesia Makin Mudah Ambil dan Kirim Uang dari Luar Negeri

Rilis
Cara Daftar MyPertamina Tanpa Aplikasi dan 'Smartphone'

Cara Daftar MyPertamina Tanpa Aplikasi dan "Smartphone"

Whats New
Harga Minyak Goreng Kemasan di Indomaret, Alfamart, dan Griya Yogya

Harga Minyak Goreng Kemasan di Indomaret, Alfamart, dan Griya Yogya

Spend Smart
Pro Kontra Cuti Melahirkan 6 Bulan yang akan Disahkan Jadi RUU Inisiatif DPR: Didukung Buruh, Dipusingkan Pengusaha

Pro Kontra Cuti Melahirkan 6 Bulan yang akan Disahkan Jadi RUU Inisiatif DPR: Didukung Buruh, Dipusingkan Pengusaha

Whats New
Pendapatan Negara 2021 Capai 115,5 Persen, Sri Mulyani: Pertama Kali dalam 12 Tahun...

Pendapatan Negara 2021 Capai 115,5 Persen, Sri Mulyani: Pertama Kali dalam 12 Tahun...

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.