AS Serang ISIS, Perusahaan Minyak Tarik Karyawan dari Irak

Kompas.com - 11/08/2014, 11:08 WIB
Dalam foto yang dirilis Angkatan Laut AS ini terlihat sebuah jet tempur F/A-18C Hornet bersiap untuk mendarat di atas landasan di kapal induk USS George HW Bush, pada Juli lalu di perairan Teluk Persia. Pesawat tempur jenis inilah yang digunakan dalam serangan udara yang mengincar posisi pasukan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang berada di luar kot Arbil, wilayah otonomi Kurdi, Irak. Joshua Card / US NAVY / AFPDalam foto yang dirilis Angkatan Laut AS ini terlihat sebuah jet tempur F/A-18C Hornet bersiap untuk mendarat di atas landasan di kapal induk USS George HW Bush, pada Juli lalu di perairan Teluk Persia. Pesawat tempur jenis inilah yang digunakan dalam serangan udara yang mengincar posisi pasukan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang berada di luar kot Arbil, wilayah otonomi Kurdi, Irak.
|
EditorErlangga Djumena

NEW YORK, KOMPAS.com
- Beberapa perusahaan minyak terkemuka memindahkan para karyawannya dari Irak utara setelah Presiden AS Barack Obama menyetujui serangan udara ke Irak.

Pesawat jet tempur AS pada Jumat (8/8/2014) lalu melakukan serangan udara terhadap  kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di wilayah Kurdistan Irak. Penyerangan tersebut membuat Genel Energy yang merupakan produsen minyak terbesar di wilayah itu memindahkan personelnya dari area tersebut.

Perusahaan minyak lain yang melakukan hal serupa diantaranya Afren dan Oryx Petroleum, yang juga mengevakuasi karyawannya di kawasan pengeboran minyak di beberapa area.

Meskipun aktivitas militer AS tersebut dapat berdampak pada kekhawatiran keamanan, faktanya wilayah tersebut menyumbang 15 persen dari produksi minyak Irak. Harga minyak mentah pun bereaksi, naik 0,3 persen menjadi 97,62 dollar AS per barel.

Menurut analis energi pada Morningstar David McColl, meskipun seluruh produksi telah dihentikan di area tersebut, total kehilangan produksi hanya mencakup 450.000 barel per hari.

Namun demikian, yang dikhawatirkan adalah kekerasan di wilayah itu dapat berpengaruh pada ekspor dari wilayah selatan, jantung produksi industri minyak Irak. "Isu besarnya adalah jika ISIS melanjutkan aksinya ke Baghdad dan lebih lanjut ke wilayah selatan, yang mana terdapat ladang minyak yang lebih besar," ujar McColl.

Harga minyak sempat melonjak pada bulan Juni menyusul kekhawatiran ekspor Irak akan terpengaruh. Namun demikian, dalam beberapa bulan lalu harga minyak mulai terkoreksi dan turun sebanyak 6 persen.



Sumber CNN Money
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X