Dalam 10 Tahun, Impor Produk Pertanian Naik Empat Kali Lipat

Kompas.com - 12/08/2014, 11:43 WIB
Buah impor ditawarkan kepada pengunjung sebuah pusat perbelanjaan ritel di kawasan Ciledug, Kota Tangerang, Banten, Minggu (24/2/2013). Tingginya lonjakan impor hortikultura selama beberapa tahun terakhir membuat pemerintah mengeluarkan peraturan larangan sementara impor buah. Penghentian impor itu berlaku bulan Januari hingga Juni 2013. 

KOMPAS/PRIYOMBODOBuah impor ditawarkan kepada pengunjung sebuah pusat perbelanjaan ritel di kawasan Ciledug, Kota Tangerang, Banten, Minggu (24/2/2013). Tingginya lonjakan impor hortikultura selama beberapa tahun terakhir membuat pemerintah mengeluarkan peraturan larangan sementara impor buah. Penghentian impor itu berlaku bulan Januari hingga Juni 2013.
|
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia dikenal sebagai negara agraris dengan pertumbuhan penduduk yang tinggi, sehingga menjadi negara terbesar populasinya nomor 4 di dunia.

Deputi Bidang Statistik Produksi, Badan Pusat Statistik, Adi Lumaksono, mengatakan, populasi yang besar itu mengkonsumsi banyak produk pertanian. Namun, kata dia, selain mengekspor produk pertanian mentah tanpa diolah, nyatanya kebutuhan produk pertanian dalam negeri juga tidak terpenuhi.

"Impor produk pertanian makin besar," kata dia dalam rilis Sensus Pertanian 2013, di Jakarta, Selasa (12/8/2014).

Adi mengatakan, pada 2003, impor produk pertanian sebesar 3,34 miliar dollar AS. Angka ini, sebut Adi, naik empat kali lipat dalam 10 tahun terakhir.

Pada 2013, nilai impor produk pertanian sudah mencapai 14,90 miliar dollar AS. Tidak hanya dari segi nilai yang semakin tinggi, volume impor produk pertanian diakui juga lebih besar. Adi menuturkan, ini menjadi keprihatinan dalam neraca pembayaran Indonesia.

"Dollar AS kita terpaksa dibayarkan keluar banyak untuk produk pertanian padahal, kita negara agraris," kata dia.

Adi menjelaskan, ada beberapa permasalahan di sektor pertanian yang menjadikan impor produk pangan makin tinggi. Salah satunya adalah soal daya saing.

Dia bilang, impor produk pertanian subsektor hortikultura dari Thailand cukup besar. Dari segi kualitas, produk nasional sebenarnya tak kalah saing. Hanya saja konsumen Indonesia senang dengan ukuran yang lebih besar. "Ada Jambu bangkok, durian bangkok, ayam bangkok, perkutut bangkok," sebut Adi.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X