Menilik Kembali Target Swasembada Pertanian SBY

Kompas.com - 12/08/2014, 12:11 WIB
Persawahan di sekitar candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, difoto dari udara menggunakan drone atau sistem pesawat tanpa awak, Sabtu (28/6/2014). KOMPAS.COM / KRISTIANTO PURNOMO - FIKRIA HIDAYATPersawahan di sekitar candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, difoto dari udara menggunakan drone atau sistem pesawat tanpa awak, Sabtu (28/6/2014).
|
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com - Kebijakan pertanian di Indonesia secara umum bertujuan untuk mencapai swasembada produksi pangan lima komoditas untuk menjamin ketahanan pangan.

Deputi Bidang Statistik Produksi, Badan Pusat Statistik, Adi Lumaksono mengatakan, kelima komoditas tersebut adalah beras, gula, jagung, kedelai, serta daging sapi.

"Dalam kebijakan pertanian, kita bilang ingin swasembada produksi pangan. Pada pertemuan oktober 2012 Presiden telah mengumpulkan menteri-menteri. Beliau mencanangkan 5 jenis komoditi yang harus swasembada," kata Adi dalam rilis Sensus Pertanian (ST) 2013, di Jakarta, Selasa (12/8/2014).

Pertama, papar Adi, Presiden dan kabinet mencanangkan surplus beras 10 juta ton yang dicapai pada 2013 lalu. Kedua, komoditas gula juga harus bisa swasembada. "Pemerintah beberapa hari yang lalu telah menaikkan HPP. Ini semata untuk meningkatkan gairah petani, dan memenuhi kebutuhan dalam negeri," tutur Adi.

Ketiga, sambung dia, pemerintah menargetkan produksi jagung. Sayangnya, kata Adi, banyak kebutuhan untuk pakan ternak yang masih impor. "Yang keempat ini kedelai. Ini salah satu bahan pokok kegemaran penduduk Indonesia," imbuh Adi.

Lebih lanjut dia menambahkan, sebenarnya ada beberapa kekhasan antara produk kedelai lokal Indonesia dengan impor. Sementara itu, untuk meningkatkan produktivitas yang diperlukan tidak hanya soal lahan, melainkan juga soal penggunaan teknologi.

Adapun komoditas kelima yang ditargetkan swasembada adala daging sapi. Adi mengatakan, harga yang melambung tinggi adalah akibat timpangnya permintaan dan penawaran. "Kesiapan untuk mensuplai konsumsi domestik tidak siap. Nampaknya perlu program swasembada daging," jelas Adi.

Namun, lanjut Adi, target swasembada tersebut belum tercapai karena beberapa penyebab. Pertama adalah soal distribusi. Dia mencontohkan kasus daging sapi, di mana sebenarnya Indonesia memiliki sentra penghasil sapi, seperti di NTT dan NTB. Tetapi sayangnya, ketersediaan angkutan ternak belum mendukung.

"Dari sentra belum ada sarana yang memadai. Ini sekarang Kemenhub menyiapkan angkutan ternak yang memdai. PT KAI akan siapkan gerbong khusus ternak, Pelni juga siapkan kapal-kapal," kata dia.

Kedua, adalah soal diversifikasi pangan. Orang-orang timur yang umumnya mengkonsumsi sagu malah didorong untuk mengkonsumsi beras, agar dirasa lebih beradab seperti orang-orang di kawasan barat Indonesia. Ketiga, sambung Adi, adalah soal daya saing.

Dia bilang, impor produk pertanian subsektor hortikultura dari Thailand cukup besar. Dari segi kualitas, produk nasional sebenarnya tak kalah saing. Hanya saja konsumen Indonesia senang dengan ukuran yang lebih besar. "Ada Jambu bangkok, durian bangkok, ayam bangkok, perkutut bangkok," sebut Adi.
baca juga: Diterima di Pasar Internasional, Kata "Sambal" Masuk Kamus Oxford



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X