Rudi Chandra, Dari Kenek Menjadi Direktur

Kompas.com - 15/08/2014, 15:00 WIB
Rudi Chandra Kompas/Dwi Bayu RadiusRudi Chandra
EditorErlangga Djumena

Oleh:
KOMPAS.com
- Dari kenek bus menjadi pendiri dan Direktur Perusahaan Dagang Hiber Jaya, itulah kisah Rudi Chandra (43). Perusahaan tersebut mengelola rumah potong ayam di Desa Lebakwangi, Kecamatan Walantaka, Kota Serang, Banten. Kepercayaan dan mutu produk benar-benar dia jaga sehingga usahanya semakin besar.

Seusai lulus Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, pada 1990, Rudi mengadu nasib ke Jakarta. Dia tinggal di rumah pamannya, di daerah Kampung Pulo, Jakarta Timur. Waktu itu, Rudi bekerja serabutan, mulai dari menjadi kenek bus kota, pedagang kaki lima, sampai pengemudi taksi.

”Saya jadi kenek bus karena berpikir kerja apa saja, asal jangan menganggur dan halal. Paling susah jika saya harus ketemu preman, pungli, dan bergelantungan di pintu bus,” tutur dia.

Untunglah Rudi belum pernah terlibat baku hantam karena dia biasanya mengalah. ”Saya jadi kenek bus sekitar tiga bulan. Saya tak bisa jadi sopir karena waktu itu belum bisa menyopir,” kata Rudi yang penghasilannya sebagai kenek bus hanya sebesar Rp 5.000 per hari.

Rudi pernah menjual jam tangan di Pasar Mester, Jatinegara, Jakarta. Selain itu, dia juga menjadi pengemudi metromini dan bus kota. Pendapatannya saat menjadi sopir meningkat menjadi Rp 15.000 per hari.

Meski penghasilannya minim, Rudi sudah berpikir jauh dengan meningkatkan kemampuan dirinya. Saat teman-temannya menghabiskan uang untuk bersenang-senang, dia mengambil kursus komputer selama delapan bulan. Rudi memegang prinsip, tidak ada yang tak mungkin untuk meraih masa depan lebih cerah.

”Saya ingin kehidupan yang lebih baik, maka saya mencari ilmu. Ilmu itu tidak akan habis. Berkat kursus komputer, saya diterima bekerja di pabrik keramik pada tahun 1995,” ujar dia.

Pegawai

Rudi kemudian menjadi pegawai pengontrol mutu di pabrik di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Gajinya hanya Rp 4.600 per hari. Namun, dia merasa beruntung tinggal di mes pegawai sehingga tak perlu memikirkan biaya tempat tinggal. Di mes itulah, Rudi kerap melihat ayam-ayam potong yang diternakkan.

”Ada pegawai yang ternak kecil-kecilan. Saya lihat dalam 30 hari saja sudah panen. Ini lumayan untuk penghasilan tambahan, saya jadi tertarik,” ujar dia.

Rudi pun mencari lahan untuk membangun peternakan. Dia mendapat informasi dari pegawai lain, banyak lahan yang disewakan di daerah Serang, Banten.

Setelah menjadi pegawai selama beberapa bulan, Rudi memutuskan keluar. Dia ingin beternak ayam. Pada 1996, dengan berbekal uang Rp 3,5 juta dari pesangon ditambah tabungan, dia mendirikan kandang untuk 2.000 ayam dengan biaya Rp 1,9 juta. Dia menyewa lahan seluas 5.000 meter persegi.

Halaman:
Baca tentang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X