Bankir: Harga BBM Harus Dinaikkan

Kompas.com - 27/08/2014, 17:57 WIB
Papan pengumuman bertuliskan stok solar bersubsidi habis dipasang di salah satu stasiun pengisian bahan bakar umum di Jalan Otto Iskandardinata, Jakarta, Senin (25/8). Pembatasan penjualan solar bersubsidi bersubsidi mulai berdampak dengan kosongnya stok solar bersubsidi di sejumlah spbu di Jakarta dan sekitarnya. KOMPAS / IWAN SETIYAWANPapan pengumuman bertuliskan stok solar bersubsidi habis dipasang di salah satu stasiun pengisian bahan bakar umum di Jalan Otto Iskandardinata, Jakarta, Senin (25/8). Pembatasan penjualan solar bersubsidi bersubsidi mulai berdampak dengan kosongnya stok solar bersubsidi di sejumlah spbu di Jakarta dan sekitarnya.
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

JAKARTA, KOMPAS.com - Citi Country Officer Indonesia Tigor M Siahaan menyatakan, ada beberapa tantangan yang harus segera dijawab oleh pemerintahan baru yang akan mulai bekerja pada 21 Oktober 2014 mendatang. Salah satu tantangannya adalah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).

"Pemerintah harus menaikkan harga BBM. Subsidi BBM yang ada sekarang sangat besar," kata Tigor saat menjadi pembicara dalam Jakarta Foreign Correspondent Club, Rabu (27/8/2014).

Menurut Tigor, harga BBM mutlak harus dinaikkan oleh pemerintah. Sebab, ia melihat kalangan masyarakat yang terlihat sebagai pihak yang merasakan BBM bersubsidi ternyata malah membeli BBM non subsidi. Oleh karena itu, ia tidak melihat ada urgensi untuk menahan menaikkan harga BBM.

"Kita misalnya ke Shell saja, saya tanya petugasnya, ternyata kebanyakan yang isi (bensin) disana adalah motor. Motor mulai banyak yang ke BBM non subsidi. Saya rasa memang perlu melakukan itu (menaikkan harga BBM. Karena orang-orang yang kita kira perlu ternyata mereka banyak yang ke Shell," ujar Tigor.

Lebih lanjut, Tigor mengungkapkan seharusnya harga BBM dinaikkan sejak lama. Ia pun tidak peduli pemerintahan mana yang mengetok palu menaikkan harga BBM, namun kenaikan tersebut dinilainya harus dilakukan tahun ini.

"Harus dinaikkan kemarin. Sebenarnya secara ekonominya, it doesn't matter pemerintahan mana (inkumben atau baru), yang penting naik. Harus lakukan itu, tidak bisa dihindari dan ini keputusan politik. Tapi apakah pemerintahan SBY atau yang baru, it has to be done this year," jelasnya.

Tigor menyebut, besaran subsidi BBM yang ada saat ini sangat besar. "Bandara Kuala Namu di Medan memerlukan biaya pembangunan 600 juta dollar AS. Itu berarti sama dengan 6 hari subsidi BBM," kata dia.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X