Subsidi Listrik Dipatok Rp 68,69 Triliun

Kompas.com - 17/09/2014, 21:22 WIB
Ilustrasi: Pekerja memeriksa jaringan listrik PLN KOMPAS/IWAN SETIYAWAN Ilustrasi: Pekerja memeriksa jaringan listrik PLN
|
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com - Komisi VII DPR RI bersama pemerintah dalam hal ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sepakat, subsidi listrik dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2015 sebesar Rp 68,69 triliun.

Direktur Jendral Ketenagalistrikkan Kementerian ESDM Jarman menjelaskan, besaran ini diperoleh dari perhitungan asumsi harga ahan bakar minyak (BBM) sebesar Rp 11.900 per liter, dengan Indonesia Crude Price (ICP) sebesar 105 dollar AS per barel. Sementara itu, jumlah pelanggan PLN diperkirakan mengalami kenaikan sebesar 9 persen.

"Dari Rp 68,69 triliun itu, sebanyak 86,8 persennya diperuntukkan bagi pelanggan Rumah Tangga R1 450 Volt Ampere (VA) dan 900 VA. Jumlahnya sekitar Rp 58,2 triliun," kata Jarman dalam rapat kerja antara Kementerian ESDM dan Komisi VII DPR RI, Jakarta, Rabu (17/9/2014).

Namun, lanjut dia, meskipun besar, namun subsidi listrik untuk golongan ini turun 8,59 persen, dibandingkan subsidi tahun lalu. "Kami mulai menerapkan transisi ke PBR (performance base regulatory) dengan cara mengganti margin dengan insentif investasi," kata Jarman.

Sebelumnya, subsidi listrik tahun berjalan pada 2015 diusulkan lebih rendah dari subsidi listrik dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Perubahan 2014.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral et interim Chairul Tanjung dalam rapat pembahasan asumsi makro 2015 dengan Komisi VII DPR RI menyatakan, subsidi listrik tahun berjalan 2015 diusulkan sebesar Rp 68,96 triliun.

Usulan tersebut berdasarkan perhitungan pertumbuhan konsumsi listrik sebesar 9 persen. Dengan demikian, diperkirakan konsumsi listrik tahun depan mencapai 216,6 TWh (terrawatthours).

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Biaya pokok produksi Rp 1.813 per KWh(kilowatthour). Asumsi subsidi listrik sudah termasuk adjustment (penyesuaian) pada 1 Januari 2015 bagi pelanggan yang subsidinya sudah dicabut pada 2014," papar Chairul, di gedung parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (15/9/2014). (Baca: Subsidi Listrik Tahun Depan Diusulkan Lebih Rendah )



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Cara Mudah Cek Tagihan PLN Online via Handphone

Cara Mudah Cek Tagihan PLN Online via Handphone

Work Smart
Mulai Terkerek, Harga Emas Antam Naik Rp 3.000 Per Gram

Mulai Terkerek, Harga Emas Antam Naik Rp 3.000 Per Gram

Spend Smart
19 Bulan Jadi Komisaris Pertamina, Apa Saja Gebrakan Ahok?

19 Bulan Jadi Komisaris Pertamina, Apa Saja Gebrakan Ahok?

Whats New
Sempat Tumbang, Ini Rincian Harga Emas Batangan di Pegadaian Terbaru

Sempat Tumbang, Ini Rincian Harga Emas Batangan di Pegadaian Terbaru

Spend Smart
3 Layanan Call Center PLN yang Bisa Dihubungi 24 Jam

3 Layanan Call Center PLN yang Bisa Dihubungi 24 Jam

Work Smart
Mengenal Kokowagayo, Koperasi Kopi Wanita Gayo yang Mendunia

Mengenal Kokowagayo, Koperasi Kopi Wanita Gayo yang Mendunia

Whats New
Kasus Covid-19 Melonjak, Kemenaker Terapkan WFH 75 Persen

Kasus Covid-19 Melonjak, Kemenaker Terapkan WFH 75 Persen

Whats New
[POPULER MONEY] 100 Pengacara Top Indonesia | CEO Grab Jajal Jadi Kurir GrabFood

[POPULER MONEY] 100 Pengacara Top Indonesia | CEO Grab Jajal Jadi Kurir GrabFood

Whats New
BUMN Berdikari Buka Lowongan Kerja, Ini Syarat dan Posisi yang Dibutuhkan

BUMN Berdikari Buka Lowongan Kerja, Ini Syarat dan Posisi yang Dibutuhkan

Work Smart
Marak Pinjol Ilegal, Ini 125 Fintech yang Terdaftar di OJK

Marak Pinjol Ilegal, Ini 125 Fintech yang Terdaftar di OJK

Whats New
[KURASI KOMPASIANA] Jadi Pribadi yang Berebeda di Media Sosial

[KURASI KOMPASIANA] Jadi Pribadi yang Berebeda di Media Sosial

Rilis
[TREN GAYA HIDUP KOMPASIANA] Rumah dan Obsesi Umur 40 Tahun | Membuat Taman Sederhana di Rumah | Memahami Trauma Masa Kecil

[TREN GAYA HIDUP KOMPASIANA] Rumah dan Obsesi Umur 40 Tahun | Membuat Taman Sederhana di Rumah | Memahami Trauma Masa Kecil

Rilis
[KURASI KOMPASIANA] Tetap Menjalin Hubungan baik dengan Mantan Usai Putus, Perlu atau Tidak?

[KURASI KOMPASIANA] Tetap Menjalin Hubungan baik dengan Mantan Usai Putus, Perlu atau Tidak?

Rilis
[KURASI KOMPASIANA] Melatih Anak Membersihkan Kamar Mandi | Merekatkan Kembali Bonding bersama Anak dengan Memasak

[KURASI KOMPASIANA] Melatih Anak Membersihkan Kamar Mandi | Merekatkan Kembali Bonding bersama Anak dengan Memasak

Rilis
Mengenal Reksadana Pasar Uang Beserta Untung Ruginya

Mengenal Reksadana Pasar Uang Beserta Untung Ruginya

Earn Smart
komentar di artikel lainnya
Close Ads X