Harga BBM Naik, ADB Prediksi Inflasi 2015 Capai 6,9 Persen

Kompas.com - 25/09/2014, 13:03 WIB
Aktivitas pengisian bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis premium di Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Umum (SPBU) 34-10206, Jakarta, Jumat (12/4/2013). KOMPAS/PRIYOMBODOAktivitas pengisian bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis premium di Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Umum (SPBU) 34-10206, Jakarta, Jumat (12/4/2013).
|
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) memperkirakan inflasi rata-rata tahunan akan sedikit melonjak pada tahun 2015. Kondisi ini terjadi apabila pemerintah baru menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tahun depan.

ADB memperkirakan inflasi tahun 2015 akan mencapai 6,9 persen, lebih tinggi dibandingkan prediksi tahun 2014 sebesar 5,8 persen. Prediksi tersebut ditentukan dengan asumsi kenaikan harga BBM benar-benar dilakukan pemerintah.

"Kita sudah memasukkan asumsi sesuai statement-statement yang kita dengar bahwa pemerintah baru akan menaikkan harga BBM bersubsidi. Tapi inflasi tahun depan (akibat dampak kenaikan harga BBM) temporary," kata Deputy Country Director ADB di Indonesia Edimon Ginting di Hotel Intercontinental Midplaza, Kamis (25/9/2014).

Edimon menegaskan, prediksi yang dilakukan ADB tersebut masih merupakan asumsi. Namun demikian, ia menyoroti kondisi inflasi saat ini yang telah turun mendekati angka 4 persen. Apabila harga BBM bersubsidi dinaikkan pada saat kondisi inflasi sedang mengalami tren penurunan, maka dampaknya tak akan besar.

"Kalau base inflasinya rendah, kalau menaikkan (harga BBM bersubsidi) dampaknya tidak tinggi. Mudah-mudah tidak terjadi sentimen seperti sebelumnya. Food price juga sedang tidak naik," ujar Edimon.

Secara umum, Edimon memandang saat ini Indonesia tengah berada pada situasi ekonomi yang cukup bagus. Ia mengungkapkan, ADB memberikan proyeksi inflasi sebesar 6,9 persen pada 2015 didasarkan asumsi kenaikan harga BBM bersubsidi berkisar 30 hingga 50 persen.

"Di sekitar 30 sampai 50 persen kira-kira asumsi kita. Dampaknya 2 sampai 2,5 persen. Timing juga penting. Kalau dinaikkan saat inflasi cenderung sedang naik, dampaknya juga tinggi," jelas Edimon.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pandemi Bikin Transaksi Belanja Online Produk Kosmetik Naik 80 Persen

Pandemi Bikin Transaksi Belanja Online Produk Kosmetik Naik 80 Persen

Spend Smart
Gara-gara Rambut Susah Diatur, Akhirnya Mulai Bisnis Pomade Buatan Sendiri

Gara-gara Rambut Susah Diatur, Akhirnya Mulai Bisnis Pomade Buatan Sendiri

Smartpreneur
AirAsia Dapat Peringkat Tertinggi untuk Health Rating Versi Airlinerating

AirAsia Dapat Peringkat Tertinggi untuk Health Rating Versi Airlinerating

Rilis
Mendag Dorong UMKM Pasarkan Produk Secara Offline dan Online di Masa Pandemi

Mendag Dorong UMKM Pasarkan Produk Secara Offline dan Online di Masa Pandemi

Whats New
Sejumlah Program di Sektor Ketenagakerjaan Ini Bantu 32,6 Juta Orang Selama Pandemi, Apa Saja?

Sejumlah Program di Sektor Ketenagakerjaan Ini Bantu 32,6 Juta Orang Selama Pandemi, Apa Saja?

Whats New
Perlu Diskresi untuk Koperasi Multipihak

Perlu Diskresi untuk Koperasi Multipihak

Whats New
Wamendag: RCEP Bakal Berkontribusi Besar pada Ekonomi ASEAN

Wamendag: RCEP Bakal Berkontribusi Besar pada Ekonomi ASEAN

Whats New
IPC Lanjutkan Pembangunan Terminal Kalibaru, Ditargetkan Beroperasi 2023

IPC Lanjutkan Pembangunan Terminal Kalibaru, Ditargetkan Beroperasi 2023

Rilis
Ignasius Jonan Diangkat Jadi Komisaris Independen Sido Muncul

Ignasius Jonan Diangkat Jadi Komisaris Independen Sido Muncul

Whats New
Menaker: 2,1 juta Korban PHK Harusnya Dapat Karpet Merah, Hanya 95.559 yang Lolos Kartu Prakerja!

Menaker: 2,1 juta Korban PHK Harusnya Dapat Karpet Merah, Hanya 95.559 yang Lolos Kartu Prakerja!

Whats New
5 Tahun Beroperasi, Mandiri Capital Suntik Dana ke 14 Startup dengan Total Rp 1 Triliun

5 Tahun Beroperasi, Mandiri Capital Suntik Dana ke 14 Startup dengan Total Rp 1 Triliun

Whats New
Jelang Natal dan Tahun Baru, DAMRI Siapkan Ribuan Armada Bus Sehat

Jelang Natal dan Tahun Baru, DAMRI Siapkan Ribuan Armada Bus Sehat

Rilis
Profil Edhy Prabowo: Mantan Prajurit, Jagoan Silat, hingga Pengusaha

Profil Edhy Prabowo: Mantan Prajurit, Jagoan Silat, hingga Pengusaha

Whats New
5 Tips Mengatur Keuangan Keluarga

5 Tips Mengatur Keuangan Keluarga

Earn Smart
Organda Keluhkan Kualitas Aspal Jalan Tol Trans Sumatera

Organda Keluhkan Kualitas Aspal Jalan Tol Trans Sumatera

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X