Kompas.com - 28/09/2014, 09:09 WIB
|
EditorErlangga Djumena

KOMPAS.com
- Es krim Singapura saat ini tengah digemari masyarakat. Namun, siapa sangka es krim Singapura dengan merek Orchard ternyata merupakan produk asli Indonesia dan dapat diwaralabakan?

"Ini sebenarnya brand dari Solo. Baru mulai 1 tahun lebih, 18 bulan," kata Creative Director Orchard Agung Nugroho kepada Kompas.com beberapa waktu lalu di Jakarta.

Es krim Singapura merupakan es krim yang disajikan dengan selembar roti untuk "menyelimuti" es krim berbentuk potongan. Pelanggan dapat memilih varian rasa es krim yang beragam, seperti vanilla, coklat, moka, choco mint, tiramisu, green tea, strawberry, red bean, dan masih banyak lagi.

Memang, diakui Agung, modal awal yang harus dikeluarkan untuk memiliki waralaba es krim Orchard lumayan besar, yakni Rp 227 juta. Namun, tren dan permintaan akan es krim Singapura ini sangat besar. Adapun target pasar yang disasar produk ini adalah menengah ke atas dan anak-anak muda.

"Orchard itu kebanyakan di mall-mall wilayah satelit Jakarta seperti Tangerang. Di Jakarta belum ada. Saat ini kita sudah ada 21 outlet di seluruh Indonesia," jelas Agung.

Untuk memulai waralaba ini, diperlukan island di dalam pusat perbelanjaan dengan ukuran area 2x2 meter, koneksi internet, dan listrik sebesar 1.320 watt. Selain itu, jumlah karyawan yang dibutuhkan dalam satu outlet mencapai 4 orang.

"Untuk franchise dapat banyak, kita dapat branding licence pasti ada. Interior, training, equipment, konsep produk, corporate identity, dan promosi. Yang dikasih pelatihan itu SPG-nya, bisa 3 hari sampai 1 minggu," ujar Agung.

Agung menjelaskan, seluruh bahan es krim Singapura Orchard seratus persen produksi lokal Indonesia. Seluruh pembuatan bahan-bahan dilakukan di Solo dan susu sebagai komposisi es krim didatangkan dari Boyolali. "Lokal semua, kita bawa konsep saja dari luar negeri. Kita akan kulik javanese-nya juga," jelas dia.

Lebih lanjut, Agung mengungkapkan sebenarnya pihaknya memperoleh banyak permintaan untuk ekspansi di luar Jawa. Namun, Orchard masih memikirkan harga pengiriman, sebab konsep Orchard bukan mengirimkan bahan lalu diolah, namun dapat langsung dijual.

"Eskpedisi mungkin ya, pakai pesawat. Kita ingin tahun 2015 kemungkinan bisa (ekspansi) ke luar Jawa, tahun 2016 ke luar negeri. Tahun 2014 ini Jawa tercover dulu," ungkapnya.

Berikut financial plan waralaba Orchard.
1. Initial Investment Rp 227.000.000
2. Gross Sales per Month Rp 87.600.000
3. Expenses
- Food Cost (50 persen) Rp 43.800.000
- Labor Cost (Tentative) Rp 5.000.000
- Rent Cost Electricity (Tentative) Rp 7.000.000
- Transportation (Tentative) Rp 1.000.000 - Marketing Promotions (1 persen) Rp 876.000
- Royalty (5 persen) Rp 4.380.000
4. Total Expenses per Month Rp 62.056.000
5. Net Profit per Month Rp 25.544.000
6. Nett Profit Percentage 30 persen
7. Payback Period 8 months

baca juga: Bisnis Cacing, Adam Kantongi Rp 300 Juta Sebulan

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.