Memanen Ratusan Juta Rupiah dari Bisnis Sayuran Jepang

Kompas.com - 12/10/2014, 09:13 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
EditorErlangga Djumena

KOMPAS.com - Jumlah penduduk yang mencapai 250 juta orang menjadikan Indonesia sebagai sebuah pasar yang menggiurkan. Dengan penduduk sebesar itu, tingkat konsumsi bahan pangan negeri ini juga tinggi. Kondisi ini yang membuka peluang bagus bagi usaha agrobisnis.

Meski jumlah petani di Indonesia sudah tak terhitung lagi jumlahnya, peluang usaha di bidang ini tidak pernah habis. Jika kompetisi berbisnis sayuran lokal sudah terlalu ketat, jangan khawatir, Anda bisa mencoba peluang baru untuk berbisnis sayuran jepang.

Tengok saja, pertumbuhan jumlah restoran dan swalayan khas Jepang sangat pesat beberapa tahun terakhir. Dulu gerai yang menyajikan produk asal Negeri Matahari Terbit ini masih sangat terbatas. Namun kini, Anda bisa dengan mudah menemukan gerai-gerai seperti itu.

Melonjaknya permintaan sayuran jepang ini yang membuat Agus Ali Nurdin, pemilik Okiagaru Farm dan Kostaman, pemilik Yan’s Fruit, terjun sebagai pemasok sayuran jepang. Kedua pengusaha ini kompak menetapkan kenaikan permintaan sayuran jepang mencapai 20 persen saban tahun. Bukan hanya warga Jepang yang tinggal di Indonesia yang mereka incar, sebab masyarakat lokal pun menyukai kuliner khas jepang.

Agus dulunya merupakan petani padi di Cianjur. Pada 2008, dia mengikuti program pertukaran petani muda ke Jepang dari Kementerian Pertanian. Selama setahun tinggal di Negeri Sakura, Agus mempelajari cara bertanam padi dan jeruk.

Ketika kembali ke Tanah Air, Agus segera menjalin relasi dengan pengusaha kuliner jepang. Ia lantas memutuskan mendirikan Okiagaru Farm, yang kemudian memasok sayuran jepang ke berbagai restoran khas jepang. “Saya pilih komoditas sayuran karena permintaannya luar biasa banyak, mengingat maraknya restoran jepang di dalam negeri,” tutur dia.

Agus menjelaskan, pengusaha kuliner jepang dulu kerap mengimpor produk pertanian dari China. Namun, produk dari China tidak lagi disukai karena tingginya penggunaan bahan kimia di Negeri Tembok Raksasa itu. Dus, permintaan untuk sayuran jepang di dalam negeri pun kian menanjak.

Ia lantas menyewa lahan seluas 1,8 hektare (ha) di Cianjur dan 4 ha di Cipanas, Jawa Barat. Di lahan itu, Agus menanam sekitar 100 jenis sayuran. Sebanyak 50 persen merupakan sayuran asli Jepang, seperti kyuri (timun jepang), horenzo (bayam jepang), kabocha (labu jepang), satsumaimo (ubi jepang), zucchini, negi. Sementara sisanya merupakan sayuran lokal tapi dikonsumsi di restoran jepang. Jadi seluruh produk Okiagaru dipasok untuk restoran dan swalayan jepang.

Agus menyebutkan, restoran besar seperti Yoshinoya dan Sushi Tei telah menjadi pelanggannya. Selain itu, dia juga menyuplai sayuran untuk swalayan Cosmo di Jakarta dan Bandung. “Sebenarnya permintaan di luar kota sangat banyak, tapi kami belum bisa memproduksi sesuai permintaan itu,” kata Agus.

Adapun Kostaman secara tak sengaja memasok sayuran jepang. Kostaman pernah menjadi supir angkutan aneka sayuran segar untuk perusahaan asal Jepang di Bandung. Pengalaman jadi supir membuat dia akrab dengan pemilik swalayan.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Sumber
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X