Mendorong Masyarakat Pegunungan Kendeng Utara Melek Finansial

Kompas.com - 19/10/2014, 02:07 WIB
Pelatihan pengelolaan keuangan Komunitas Simbar Wareh dan Desantara Foundation dok Desantara FoundationPelatihan pengelolaan keuangan Komunitas Simbar Wareh dan Desantara Foundation
|
EditorBambang Priyo Jatmiko
KOMPAS.com - Seiring dengan bergulirnya program inklusi finansial oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), berbagai pelatihan pun digelar dengan melibatkan berbagai pihak. Salah satunya dilaksanakan pada kegiatan pengenalan pengelolaan keuangan di kelompok perempuan di wilayah Pegunungan Kendeng Utara, Kabupaten Pati Jawa Tengah, yakni Komunitas Simbar Wareh.

Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Desantara Foundation dengan dukungan salah satu bank swasta nasional.

Pada tingkat komunitas, kelompok ini telah cukup mampu mengatasi persoalan pengelolaan keuangan. Namun, pada tingkat keluarga ternyata masih banyak anggota kelompok yang belum paham mengenai bagaimana cara mengelola keuangan keluarga agar lebih sehat.

Masalah-masalah yang dihadapi komunitas tersebut mulai terjawab ketika mereka dikenalkan dengan  materi pengelolaan keuangan keluarga. Selain mengetahui dasar-dasar pembukuan keuangan, peserta juga diajak untuk melakukan simulasi penghitungan keuangan keluarga agar mendapatkan rasio pemasukan dan pengeluaran yang menguntungkan.

Dalam kegiatan tersebut, juga dikenalkan mengenai bank dan fungsinya. Termasuk, dikenalkan tata cara membuka rekening bank dan persyaratan mengajukan pinjaman.

Pegiat Komunitas Simbar Wareh yang juga Direktur Eksekutif Desantara Foundation, M. Sobirin kepada Kompas.com mengaku pendidikan keuangan seperti ini sangat diperlukan untuk membangun basis ekonomi yang lebih kuat bagi komunitas petani.

Menurut dia, program inklusi finansial ini sangat penting agar kemandirian finansial bukan hanya menjadi domain kelompok-kelompok ekonomi mapan perkotaan, tetapi juga bisa difahami oleh mereka yang berada dalam kelompok-kelompok ekonomi lemah di perdesaan.

Selama ini, lembaga keuangan informal di perdesaan (rentenir) menjadi sumber utama permodalan petani di perdesaan, meskipun pemberi pinjaman itu tidak memberikan kesempatan bernegosiasi bagi petani yang sedang membutuhkan akses permodalan. Akhirnya, posisi tawar petani menjadi rendah dan menerima apapun yang dipersyaratkan rentenir.

Hal ini terjadi karena, banyak petani yang tidak paham bagaimana harus berhubungan dengan perbankan.

“Untuk itu, OJK perlu juga menekankan pentingnya literasi perbankan bagi komunitas-komunitas yang rentan dengan praktek jasa keuangan yang tidak aman,” harapnya.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X