"Blusukan" Jokowi di Tianjin, dari Kereta Cepat hingga Pembangkit Listrik

Kompas.com - 11/11/2014, 16:40 WIB
EditorErlangga Djumena

KOMPAS.com — Tak sekadar bertemu dengan para pemimpin tertinggi Tiongkok, Presiden Xi Jinping dan Perdana Menteri Li Keqiang, Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga langsung blusukan untuk melihat apa yang ditawarkan oleh Negeri Tirai Bambu.

Seusai meninggalkan Balai Agung Rakyat, tempat keputusan-keputusan penting Tiongkok diambil, Presiden dengan didampingi oleh Menko Perekonomian Sofyan Djalil dan Menteri Perdagangan Rahmat Gobel berkunjung ke Tianjin, yang terletak di selatan Beijing.

Untuk menuju kota tersebut, Presiden yang juga disertai oleh Ibu Iriana Joko Widodo memilih menggunakan kereta cepat Tianjin-Beijing. Kereta cepat ini menghubungkan dua kota yang berjarak sekitar 117 kilometer itu dengan waktu tempuh hanya 30 menit.

Kedatangan Presiden beserta rombongan di stasiun sempat memancing rasa ingin tahu para pengguna alat transportasi tersebut. Mereka berkerumun di sekitar jalan yang dilalui Presiden.

Dalam suatu sesi wawancara di dalam kereta api cepat, Presiden Jokowi menyebut kereta cepat itu sebagai contoh bahwa pembangunan infrastruktur hendaknya tidak dilakukan terlambat.

"Infrastruktur itu jangan terlambat, apalagi yang menyangkut hubungan antara kota dan kota, antara pulau dan pulau. Konektivitas itu wajib," katanya.

Menurut Presiden, semakin cepat dibangun, infrastruktur akan semakin murah. Sementara itu, jika semakin lama atau semakin diundur, maka biaya pembangunan infrastruktur akan semakin mahal dan manfaatnya hilang.

Ia kemudian memberikan contoh pembangunan mass rapid transportation (MRT) atau transportasi cepat massal yang akan jauh lebih murah apabila dibangun 20 atau 25 tahun lalu, terkait dengan pembebasan lahan dan urusan non-teknis lainnya.

"Ini ada keputusan politik. Kalau sudah diputuskan ya memang harus segera dikerjakan, jangan menunda-nunda apa yang namanya pembangunan infrastruktur," katanya.

Saat ditanya apakah pemerintahannya berniat membangun kereta api cepat itu, Presiden mengatakan belum dapat menyampaikan hal itu karena belum konkret.

Di Tianjin, Wali Kota Huang Xingguo secara khusus menyambut Presiden dan Ibu Iriana. Xingguo menyampaikan komitmennya untuk melaksanakan kesepakatan yang telah disetujui oleh Presiden Jokowi dengan Perdana Menteri Li Keqiang dan Presiden Xi Jinping.

Sementara itu, Presiden menyampaikan kekagumannya pada tata kota Tianjin, yang bersih dan indah karena banyak memiliki taman kota. Mengingat Tiongkok mulai memasuki awal musim gugur, beberapa pohon di taman-taman kota tampak mulai menguning.

Jokowi menilai Tianjin sebagai kota yang tumbuh pesat sekali karena ditunjang oleh industri, pelabuhan, pembangkit tenaga listrik, infrastruktur, transportasi, dan lain-lain.

"Saya kira pengalaman-pengalaman seperti inilah yang ingin kita cari dan ingin kita laksanakan di Tanah Air," katanya.

Pelabuhan

Dengan rombongannya yang relatif berjumlah kecil, kurang dari 50 orang dalam rombongan inti, termasuk 13 wartawan, Presiden Jokowi juga melakukan peninjauan di kantor pelayanan Pelabuhan Tianjin, bahkan dermaga kontainer. Ia secara langsung menanyakan kapasitas pelabuhan dan hitung-hitungan ekonomi operasional bandara tersebut.

"Rencananya, kita akan mengembangkan 24 pelabuhan dalam lima tahun ini. Oleh sebab itu, mengapa kita ke Tianjin, ini adalah pelabuhan besar, dan arah pengembangan 50 tahun-100 tahun sudah ada perencanaan," kata Jokowi.

Menurut Presiden, pemerintah pada 2015 akan siap membangun empat pelabuhan sehingga kunjungan ke Tianjin tersebut sebagai suatu penjajakan dan pembelajaran.

"Pertama, kita ingin melihat di lapangan. Kedua, kalau bisa, kerja sama antara BUMN dan BUMN. Kalau tidak, ya swasta dengan swasta," katanya.

Namun, ia mengatakan, tidak menutup kemungkinan jika pemerintah melakukan pembiayaan apabila rencana tersebut masih dianggap tidak menarik oleh investor.

Terkait peluang mengadopsi konsep pelabuhan Tianjin, Presiden mengatakan pelabuhan tersebut memang terhitung efisien. Akan tetapi, belum ada pembahasan ke arah itu, sekalipun ia mengaku bahwa contoh di Tianjin sudah lebih dari cukup, baik dari segi manajemen maupun perencanaan.

Pelabuhan Tianjin juga merupakan pelabuhan terbesar di kawasan utara Tiongkok dan merupakan pintu akses maritim terpenting bagi Beijing.

Dengan luas daratan 121 km persegi, pelabuhan Tianjin adalah man-made port terbesar di Tiongkok.

Pada tahun 2013, pelabuhan Tianjin menangani kargo sejumlah 500 ton dan kontainer sebanyak 13 juta TEU. Hal tersebut menjadikannya sebagai pelabuhan keempat yang terbesar di dunia dalam hal aktivitas dan kesembilan terbesar di dunia untuk pelabuhan kontainer.

Pelabuhan Tianjin menghubungkan Tiongkok dengan lebih dari 600 pelabuhan di 180 negara di dunia.

Pembangkit listrik terintegrasi

Selain blusukan di pelabuhan, Presiden Jokowi juga blusukan melihat integrasi antara fasilitas pembangkit listrik, pemurnian air laut, dan pembuatan garam di Tianjin Beijing Power Plant.

"Mereka dalam membangun pelabuhan itu pasti terintegrasi. Pembangkit listrik ada, pelabuhan ada, zona industri menjadi satu. Menjadi efisien, membawa barang dekat, menarik listrik ke industri dekat. Inilah yang ingin terus kita pelajari, mengapa barang mereka sangat kompetitif, bisa sangat murah dan efisien," katanya.

Jokowi melakukan tanya jawab langsung dengan penanggung jawab fasilitas pembangkit listrik tersebut tentang tingkat efisiensi fasilitas itu, termasuk juga dampaknya terhadap lingkungan.

Tianjin Beijing Power Plant merupakan pembangkit listrik bertenaga batu bara dengan kapasitas 2.000 megawatt. Pembangkit listrik tersebut dibuka pada 2009, dan berlokasi di Subdistrik Hangu, Binhai New Area.

Pembangkit listrik itu merupakan salah satu sumber tenaga bagi Tianjin, terutama kawasan Binhai New Area.

Selaras dengan gagasan yang diusungnya dalam kampanye untuk jabaran RI1, pada kunjungan kerja pertamanya ke luar negeri, Presiden Jokowi tampaknya juga langsung menyasar pada upaya-upaya untuk mewujudkan konektivitas antarkota dan kawasan di Indonesia serta mewujudkan ketahanan energi.

Sekalipun belum secara terbuka menyampaikan hasil dari blusukan tersebut, dalam suatu wawancara seusai jamuan santap malam para pemimpin ekonomi APEC di Water Cube, Beijing, Presiden Jokowi mengakui bahwa ada hasil konkret dari pertemuannya dengan para pemimpin Tiongkok serta kunjungan kerjanya ke negeri tersebut. (GNC Aryani)

Baca juga: Jokowi Tegaskan Indonesia Tak Ingin Sekadar Jadi Pasar bagi Negara Besar

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber Antara
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.