Kompas.com - 15/12/2014, 06:00 WIB
EditorBambang Priyo Jatmiko

                                      Rhenald Kasali
                                      (@Rhenald_Kasali)


KOMPAS.com
- Tantangannya besar, tetapi ruangnya kecil. Apa yang bisa dilakukan seorang CEO? Itulah Pekerjaan Rumah mantan CEO Citilink yang kini dipercaya Rini Soemarno sebagai CEO baru Garuda Indonesia, Arif Wibowo.

Itu  pulalah yang sebenarnya dihadapi Emirsyah Satar saat kembali ke Garuda di tahun 2005. Dan itulah tantangan seorang change maker. Ia harus mengubah platform, memperbesar ruang, dari titik yang menyudutkan dengan pertahanan yang rapuh ke sebuah ruang besar dengan visi pertahanan yang luas.

Caotic, the End of Chaos

Barangkali tak ada industri global yang lebih caotic dari industri penerbangan. Dia diinginkan dunia, tetapi industrinya sulit meraih keuntungan. Selain investasinya yang masif,  bisnis ini highly regulated dan melibatkan banyak kepentingan.

Kalaulah negara-negara tetap mempertahankannya, itu semata-mata karena  ada sejarah national flag carrier. Jadi, kalau  di-grounded karena rugi, banyak pemimpin yang khawatir ia dipandang sebagai simbol dari kegagalan besar ekonomi.

Tambahan pula, bisa terjadi national flag carrier buntung karena terjadi ketakseimbangan ekonomi, sehingga bisa jadi perekonomian lain yang diuntungkan semisal bisnis logistik dan pariwisata. Tetapi masalahnya, dunia pariwisata kita hanya sepertiganya Malaysia, dan indeks kinerja logistik kita terparah di Asean.

Maka, Malaysia memilih untuk menyelamatkan MAS (Malaysia Airlines) kendati tahun ini didera banyak kesulitan. Kerugiannya di kuartal I-2014 mencapai 140 juta dollar AS, dan diduga akan menjadi 620 juta dollar AS pada akhir Desember ini (Forbes, 19 Juli 2014). Angka ini lebih besar dari yang diderita Garuda Indonesia yang mencapai 206,4 juta dollar AS sepanjang (Januari – September 2014).

Di Amerika Serikat sendiri, tutupnya airlines soal yang biasa. Mereka tinggal meminta perlindungan negara dalam paket UU kebangkrutan (chapter seven dan chapter eleven). Pasar telah menggantikan kepentingan lain demi efisiensi dan kompetisi. Dan anehnya, meski merugi, selalu saja ada investor baru yang berani mengadu nasib.

Industri penerbangan Indonesia belakangan ini mencatat ada tiga penerbangan lokal yang berhenti beroperasi sepanjang 2014 (Merpati 1 Februari, Sky Aviation 1 Maret, dan Tiger Mandala 1 Juli). Lalu 5 perusahaan telah  ditutup sejak 2005 (Star Air 2008, Linus 2009, Adam Air 2008, Jatayu 2008, dan Batavia 2013).

Sementara, Indonesia AirAsia juga mengurangi jumlah pesawatnya karena merugi sejak akhir tahun lalu. Informasi yang saya kumpulkan menunjukkan hampir semua armada penerbangan swasta domestik mengalami kesulitan serupa. Di negara tetangga hal serupa juga terjadi.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan Video Lainnya >

27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mengintip Gaji Kabareskrim Komjen Agus Andrianto

Mengintip Gaji Kabareskrim Komjen Agus Andrianto

Whats New
Utang Pemerintah Tembus Rp 7.496 Triliun, Kemenkeu Bilang Masih Aman

Utang Pemerintah Tembus Rp 7.496 Triliun, Kemenkeu Bilang Masih Aman

Whats New
Bagaimana Peran Industri Telekomunikasi Mendukung Potensi Startup di Indonesia?

Bagaimana Peran Industri Telekomunikasi Mendukung Potensi Startup di Indonesia?

Whats New
Biaya Rp 2.500, Simak Cara Transfer Antarbank via BI Fast di BRImo

Biaya Rp 2.500, Simak Cara Transfer Antarbank via BI Fast di BRImo

Spend Smart
Jasindo Salurkan Pendanaan Senilai Rp 900 Juta untuk Kelompok Tani Ternak di Tulungagung

Jasindo Salurkan Pendanaan Senilai Rp 900 Juta untuk Kelompok Tani Ternak di Tulungagung

Whats New
Upaya Subholding Gas Pertamina Tingkatkan Penggunaan dan Pengembangan Infrastruktur Gas Bumi

Upaya Subholding Gas Pertamina Tingkatkan Penggunaan dan Pengembangan Infrastruktur Gas Bumi

Whats New
Bakal Ditinjau Jokowi, Pekerjaan Kavling Kawasan Inti IKN Nusantara Dimulai Januari 2023

Bakal Ditinjau Jokowi, Pekerjaan Kavling Kawasan Inti IKN Nusantara Dimulai Januari 2023

Whats New
Kompasianival Hadir Kembali Secara Offline, Angkat Tema 'Kelana Masa Depan'

Kompasianival Hadir Kembali Secara Offline, Angkat Tema "Kelana Masa Depan"

Rilis
Pelaku Industri Properti Optimistis Bisnis Tetap Tumbuh Positif Tahun Depan

Pelaku Industri Properti Optimistis Bisnis Tetap Tumbuh Positif Tahun Depan

Whats New
Tak Setuju Kenaikan Cukai Rokok 10 Persen, Petani Tembakau Usul 5 Persen

Tak Setuju Kenaikan Cukai Rokok 10 Persen, Petani Tembakau Usul 5 Persen

Whats New
Telefast, Volta, dan MCAS Group Kerja Sama Kembangkan Bisnis Kendaraan Listrik

Telefast, Volta, dan MCAS Group Kerja Sama Kembangkan Bisnis Kendaraan Listrik

Whats New
Ada Tren Kenaikan Suku Bunga BI, Ini Dampaknya ke Bunga Simpanan Bank

Ada Tren Kenaikan Suku Bunga BI, Ini Dampaknya ke Bunga Simpanan Bank

Whats New
Yakin Produksi Beras Dalam Negeri Cukup, Mentan: Cek Saja Data BPS

Yakin Produksi Beras Dalam Negeri Cukup, Mentan: Cek Saja Data BPS

Whats New
Survei Grab: Mie Instan dan Nasi Goreng adalah Menu yang Paling Banyak Dipesan di GrabMart dan GrabFood

Survei Grab: Mie Instan dan Nasi Goreng adalah Menu yang Paling Banyak Dipesan di GrabMart dan GrabFood

Whats New
Menteri Teten Resmi Pecat PNS Kemenkop UKM Pelaku Kekerasan Seksual

Menteri Teten Resmi Pecat PNS Kemenkop UKM Pelaku Kekerasan Seksual

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.