Faisal Basri: Banyak Kesalahpahaman tentang Petral

Kompas.com - 18/12/2014, 05:48 WIB
Menteri ESDM Sudirman Said (kanan), Menteri BUMN Rini M Soemarno (kiri), dan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas Faisal Basri, bersalaman usai memberikan keterangan kepada wartawan tentang pembentukan Tim Reformasi Tata Kelola Migas di Gedung ESDM, Jakarta Pusat, Minggu (16/11/2014). Tim Reformasi Tata Kelola Migas resmi dibentuk oleh Kementerian ESDM dan Kementerian BUMN untuk meninjau kebijakan pemerintah di sektor energi dari hulu sampai hilir, serta mengkaji ulang keberadaan SKK Migas dan BP Migas. WARTA KOTA / ANGGA BHAGYA NUGRAHAMenteri ESDM Sudirman Said (kanan), Menteri BUMN Rini M Soemarno (kiri), dan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas Faisal Basri, bersalaman usai memberikan keterangan kepada wartawan tentang pembentukan Tim Reformasi Tata Kelola Migas di Gedung ESDM, Jakarta Pusat, Minggu (16/11/2014). Tim Reformasi Tata Kelola Migas resmi dibentuk oleh Kementerian ESDM dan Kementerian BUMN untuk meninjau kebijakan pemerintah di sektor energi dari hulu sampai hilir, serta mengkaji ulang keberadaan SKK Migas dan BP Migas.
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi (Migas) Faisal Basri menemukan fakta baru soal Pertamina Energy Trading Limited (Petral), anak usaha PT Pertamina (Persero) yang berbasis di Singapura.

"Ternyata Petral berperan sebagai trading company," ucap Faisal di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (17/12/2014).

Faisal lebih lanjut mengatakan, Petral menyewa blending facility di Singapura. Petral melakukan blending minyak RON 92 menjadi RON 88. "Saya juga baru tahu itu. Jadi, peranan dia sebagai traders," imbuh Faisal.

Faisal menyebut ada kesalahpahaman di publik selama ini mengenai Petral. Selama ini, Petral disebut sebagai sarang mafia migas. Dia mengakui, ternyata Petral juga bertindak sebagai trading agent sebagaimana anak usaha national oil company (NOC) negara lain.

"Membeli dari satu NOC, lalu menjual ke NOC lain di luar Pertamina. Kita juga enggak tahu selama ini (kenyataannya seperti itu)," pungkas Faisal.

Tim Anti-Mafia Migas sebagaimana diketahui mengemban tugas melakukan reformasi tata kelola migas di Indonesia. Peran Petral sebagai trading agent dari NOC RI, yakni PT Pertamina (Persero), pun tak luput dari kajian, apakah mereka juga melakukan penjualan BBM atau sekadar mengimpor BBM (buying agent).



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X