Tim Anti-Mafia Migas Kantongi Dokumen Petral "Olah" Premium di Malaysia

Kompas.com - 24/12/2014, 21:21 WIB
Pengendara motor mengantre di SPBU untuk mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis premium, di Bali, Selasa (26/8/2014). AFP PHOTO / SONNY TUMBELAKAPengendara motor mengantre di SPBU untuk mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis premium, di Bali, Selasa (26/8/2014).
Penulis Yoga Sukmana
|
EditorPalupi Annisa Auliani
JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi Faisal Basri menyatakan sudah memiliki bukti "praktik" pengoplosan untuk mendapatkan BBM jenis premium oleh anak usaha Pertamina, yaitu Pertamina Trading Energy Limited (Petral).

Berdasarkan dokumen penerimaan barang impor yang dimiliki Tim Anti-Mafia Migas—sebutan lain untuk tim ini—terkuak bahwa premium yang diimpor Indonesia merupakan produk "oplosan" yang dibuat di Malaysia.

"Petral enggak punya fasilitas untuk mem-blending, makanya pakai yang punya Trafigura yang di Malaysia itu," kata Faisal di Kantor Tim Reformasi Tata Kelola Migas, Jakarta, Rabu (24/12/2014). Trafigura Pte Ltd, sebut dia, adalah perusahaan Singapura, tetapi punya fasilitas pengolahan di Malaysia.

Menurut dokumen yang didapatkan tim ini, papar Faisal, Trafigura mencampur BBM berkadar oktan (Researh Octane Number/RON) 92 dengan Naptha berkadar rendah untuk menghasilkan BBM dengan RON 88.

Dengan temuan ini, kata Faisal, praktik impor premium yang selama ini berjalan adalah semu. Dugaan pengoplosan BBM RON 92 menjadi RON 88 ini bukan baru kali ini mencuat, tak terkecuali dari Faisal.

Dasar dugaan itu adalah BBM RON 88 sudah termasuk produk langka di industri perminyakan dunia. Bahkan, kata Faisal, BBM RON 88 sudah tak lagi diperjualbelikan di pasar internasional.

Setelah melewati serangkaian analisis, diskusi, dan pertemuan dengan beragam institusi pemangku kepentingan, Tim Reformasi Tata Kelola Migas menyampaikan rekomendasi pertama, Minggu (21/12/2014).

Isi rekomendasi perdana itu adalah penghentian impor BBM jenis bensin RON 88 atau premium. Tim ini merekomendasikan pula impor BBM hanya untuk bensin RON 92 alias pertamax.

"Kapan bisa diterapkan, kami sudah konsultasi dengan Pertamina. Pertamina bisa kira-kira sekitar dua bulan," ujar Faisal.

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X