Kompas.com - 30/01/2015, 11:02 WIB
EditorBambang Priyo Jatmiko

                                                 Ryan Filbert
                                                @RyanFilbert

KOMPAS.com - Sebagai orang yang kini tinggal di daerah pinggiran Jakarta, saya membutuhkan sebuah strategi khusus untuk membuat jadwal pertemuan dan rapat di area Jakarta Pusat bisa on time.

Kalau sudah seharian meeting di area jalan protokol, saya akan mengoptimalkan jadwal rapat agar keesokan harinya saya tidak perlu mengulang rute tersebut. Terasa sekali pengorbanan para karyawan dan pekerja yang semakin hari semakin sulit mengakses area jalan protokol, dengan diberlakukannya peraturan bahwa motor tidak boleh mengakses area jalan MH Thamrin. Hal ini akan menambah level kesulitan yang baru, dan bagi pengendara kendaraan pribadi roda empat, pelaksanaan 3 in 1 tentunya juga membuat hambatan dalam beraktivitas.

Saya adalah orang yang sangat setuju dengan perombakan fasilitas umum secara agresif, karena memang transportasi massal adalah salah satu jawaban darikepadatanpendudukkota Jakarta ini.
Belajar dari kota-kota besar lain seperti Singapura dan Hong Kong, transportasi umum tetap menjadi alat transportasi utama hampir semua golongan.

Saya bahkan mengenal beberapa orang yang mampu membeli kendaraan di Singapura, tapi tetap memilih menggunakan transportasi umum. Di Indonesia, penggunaan transportasi umum dan mengakses sebuah area menggunakan kaki (berjalan kaki) terkesan kurang bergengsi.

Untunglah, beberapa tahun terakhir ini, bersepeda menjadi sebuah kegiatan yang terlihat kembali naik pangkat, padahal di era-era sebelumnya hal ini sempat ditinggalkan.

Bicara mengenai berjalan kaki sebagai metode termurah, rupanya ini juga memberikan banyak manfaat bagi badan, dimulai dari membentuk kaki dan bahu, selain itu juga bisa mengurangi beraneka penyakit. Silakan Anda cari lebih banyak literasi mengenai hal tersebut.

Beberapa kali, karena sedang diberlakukan 3 in 1, saya memarkir kendaraan agak jauh dari jalan protokol dan sengaja berjalan kaki. Saya juga lebih memilih menggunakan transportasi umum, karena parkir di jalan protokol biayanya amat mahal, apalagi di mal, belum lagi ditambah dengan layanan valet parking-nya.

Namun dari beberapa pengalaman tersebut, apa yang saya dapati adalah jalanan yang tidak bersahabat bagi pejalan kaki, mulai dari trotoar yang sempit, trotoar yang digunakan sebagai tempat berdagang kaki lima, trotoar digunakan sebagai lahan parkir motor, serta yang lebih mengesalkan, ada beberapa gedung yang terkesan merendahkan pejalan kaki. Ini terlihat dari pelataran depan gedung di jalan protokol tersebut yang tidak memberikan akses bagi pejalan kaki untukmasuk. Pejalan kaki diwajibkan memutar, cukup jauh.

Dalam beberapa kebudayaan, pintu belakang sebagai akses dapat diartikan sebagai pintu untuk pelayan atau pegawai rendahan.Hal ini menurut saya sangat menyedihkan.

Saya kira itulah salah satu alasan mengapa di Indonesia, khususnya di daerah perkotaanseperti Jakarta, budaya berjalan kaki hanya bisa dilakukan sebagai sebuah kegiatan akhir pekan saja. Karena bila dijadikan budaya sehari-hari, perlakuan terhadap orang yang berjalan kaki terkesan tidak membuat nyaman.Bahkan, fasilitas penyeberangan pun tidak selalu tersedia, dan belum lagi masalah keamanan yang hingga kini masih menghantui orang banyak untuk berjalan kaki dan menggunakan kendaraan umum.

Bagaimana tidak takut, begitu masuk kendaraan umum, belum lama Anda duduk, tiba-tiba ada beberapa orang bertato masuk dan mulai berpidato di depan. "Bapak dan Ibu, saya baru saja keluar dari penjara. Sekiranya….”

Ya, negara kita memang sedang membangun, dan setidaknya kita perlu yakin bahwa apa yang dibangun nantinya akan memberikan manfaat bagi semua orang dan menjadikan Indonesia lebih baik. Namun, masalahnya bukanhanya terletak pada tersedianya transportasi massal, tapi juga perlunya keyakinan bahwa ada rasa aman saat menggunakannya, serta kemudahan untuk mengakses transportasi tersebut.

Salam investasiuntuk Indonesia.

dok pribadi Ryan Filbert

Ryan Filbert
merupakan praktisi dan inspirator investasi Indonesia. Ryan memulai petualangan dalam investasi dan keuangan semenjak usia 18 tahun. Aneka instrumen dan produk investasi dijalani dan dipraktikkan, mulai dari deposito, obligasi, reksadana, saham, options, ETF, CFD, forex, bisnis, hingga properti. Semenjak 2012, Ryan mulai menuliskan perjalanan dan pengetahuan praktisnya. Buku-buku yang telah ditulis antara lain: Investasi Saham ala Swing Trader Dunia, Menjadi Kaya dan Terencana dengan Reksa Dana, Negative Investment: Kiat Menghindari Kejahatan dalam Dunia Investasi, dan Hidden Profit from The Stock Market. Ryan juga baru saja menerbitkan dua seri buku baru yang berjudul Bandarmology dan Investasi pada property Rich Investor from Growing Investment. Setiap bulannya, Ryan Filbert sering mengadakan seminar dan kelas edukasi di berbagai kota di Indonesia.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.