Kompas.com - 08/02/2015, 15:15 WIB
EditorLaksono Hari Wiwoho

Ketua Gabungan Pecinta Batu Alam (GaPBA) Aceh Nasrul Sufi mendata jumlah penggemar batu akik terus meningkat. Pada 2011, penggemar batu akik hanya sekitar 30 orang dan kini 50.000 orang. Harga batu aceh pun melonjak drastis dibandingkan tahun lalu.

Pengusaha batu akik, Muhammad Syukur (33), menuturkan, setahun lalu harga bahan mentah idocrase kualitas super dari petambangnya berkisar Rp 400.000 per kilogram. Kini harganya bisa Rp 100 juta-an per kg. GaPBA Aceh mencatat, pebisnis batu akik melonjak hingga 15.000 orang di seluruh Aceh.

Fenomena batu akik terjadi ketika warga menemukan bahan mentah batu alam jenis idocrase di Betung, Kabupaten Nagan Raya, pada 2013. Idocrase kemudian menang dalam Indonesian Gemstones Competition and Exhibition 2013 dan 2014 di Jakarta.

Melihat ledakan permintaan, GaPBA Aceh membangun Sentra Kerajinan Batu Alam Aceh di Ulee Lheue, Banda Aceh, pada November 2014 dengan perputaran uang mencapai Rp 250 juta per hari. "Keuntungan yang didapat para pebisnis itu 20-30 persen per hari dari semua perputaran uang tersebut," ujar Nasrul.

Geliat batu akik juga kentara di Pasar Rawa Bening, Jakarta Timur, yang dihuni 1.400 pedagang akik. Ketua Dewan Pembina Asosiasi Pedagang Pasar Rawa Bening Tanwir Lubis menyebut kenaikan omzet hingga 400 persen dibandingkan tahun lalu. Omzet pedagang grosiran kecil, seperti Kios Batavia, mencapai Rp 20 juta per hari.

"Tren batu akik meledak lagi karena munculnya batu alam Indonesia. Batu bacan, bengkulu, aceh, dan lampung. Dulu orang enggak perhatian. Saya keliling seluruh daerah dan memang setiap daerah ada potensi batu akik," kata Tanwir.

Fenomena sesaat

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Mukhlis Yunus, mencermati ledakan batu aceh ini sebagai fenomena sesaat layaknya fenomena ikan louhan, tanaman anthurium, bunga euphorbia, beberapa tahun lalu di Indonesia. "Hanya saja, karena benda mati, fenomena batu alam kemungkinan bisa bertahan cukup lama," katanya.

Mukhlis mengimbau, masyarakat bersikap wajar dalam menyikapi ledakan batu akik. Sebab, hingga kini, batu akik belum memiliki standar harga di pasaran. Selain itu, batu tersebut belum memiliki sertifikasi yang bisa menjaga harga dan keasliannya.

Kondisi itu bisa memicu perubahan yang tidak bisa diprediksi, yakni bisa terus melonjak ataupun jatuh secara tiba-tiba. "Untuk itu, batu alam belum bisa menjadi investasi jangka panjang seperti emas," tuturnya.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.