Nasib Mainan Tradisional di Tengah Derasnya Gempuran "Gadget"

Kompas.com - 11/02/2015, 13:08 WIB
Kartiya (67 tahun), warga Desa Kasugengan Lor, Kecamatan Depok, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, membuat mainan tradisional mobil-mobilan yang terbuat dari kayu dan tripleks bekas. Ia bertahan di tengah maraknya mainan plastik pabrikan, dan gencarnya mainan berbasis gadget. KOMPAS.COM/ MUHAMAD SYAHRI ROMDHONKartiya (67 tahun), warga Desa Kasugengan Lor, Kecamatan Depok, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, membuat mainan tradisional mobil-mobilan yang terbuat dari kayu dan tripleks bekas. Ia bertahan di tengah maraknya mainan plastik pabrikan, dan gencarnya mainan berbasis gadget.
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

CIREBON, KOMPAS.com – Masih ingat dengan mainan tradisional mobil-mobilan yang terbuat dari kayu? Ya, mainan itu pernah jadi primadona anak-anak di masa kecil. Anak-anak memainkan dengan menaikinya, atau sekedar didorong-dorong bersama teman-teman seusianya.

Meskipun sudah sulit ditemukan, mainan itu masih bertengger di etalase, salah satu toko, di Jalur Utama Pantura, Jalan Raya Tegal Wangi, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Ibu Warni (55) yang menjual beberapa mainan tradisional berbahan kayu dan rotan, tetap berusaha bertahan di tengah derasnya mainan pabrikan berbahan plastik. Toko ini juga seakan melawan maraknya mainan dan gadget.

Sementara tu, Kartiya, pria tua usia 67, yang tinggal di Desa Kasugengan Lor, Kecamatan Depok, Kabupaten Cirebon, tetap setia membuat mainan tradisional itu. Di rumahnya yang cukup sederhana, Kartiya, berusaha menciptakan jenis mainan itu setiap harinya.

Meski usia sudah sepuh, Kartiya tidak bermalas-malasan. Justru bapak empat anak ini masih semangat. Dia menggunakan bahan baku mainan ini, dengan kayu triplek bekas dan memanfaatan sisa barang lain yang tak terpakai. Barang yang tak bernilai itu lantas dia sulap menjadi mainan yang bernilai tinggi, dan tentunya bisa menyenangkan anak-anak.

Dalam prosesnya, Kartiya mengukur, dan memotong kayu triplek bekas sesuai bagian mobil. Kemudian, ia gabungkan satu persatu, hingga menjadi ban, kepala, badan, dan bagian mesin. Masing-masing bagian itu dicat, dan digabungkan hingga menjadi mobil yang cukup menarik.

Dalam satu minggu, Kartiya mampu menyelesaikan sekitar 10 buah mobil-mobilan berukuran besar, atau sekitar 15 buah mobil berukuran kecil. Hasil karyanya ini ia antarkan langsung ke beberapa toko di Jalur Utama Pantura, dan beberapa pemesan dari Kuningan, Majalengka, Indramayu, Bandung, dan juga Tegal Jawa Tengah.

Satu unit mobil mainan ukuran besar, ia jual ke toko sekitar Rp 50.000 rupiah, dan Rp 35.000 untuk ukuran sedang. Sementara itu untuk ukuran kecil dia jual Rp 25.000.

Selain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, Kartiya meniatkan kerajinan ini sebagai upya melestarikan budaya. “Masih, masih semangat, dan kuat. Karena saya masih sehat, dan pastinya saya masih memerlukan biaya untuk menafkahi keluarga,” katanya saat ditemui di rumahnya, Minggu (8/2/2015).

Kartiya yang miliki semangat tinggi, ulet, dan tekun ini, sudah menghasilkan karya mainan tradisional ini sejak muda, sekitar 35 tahun yang lalu. Ia meyakini, meskipun mainan tradisional telah tergusur jaman, namun mainan tersebut akan tetap eksis selama masih ada anak-anak.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X