Menteri Susi Bercerita Sempat Dituding Tak Nasionalis

Kompas.com - 17/02/2015, 13:00 WIB
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti memberikan keterangan pers di Kementerian Kelautan dan Perikanan, di Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta, Selasa (28/10/2014). Susi mulai bertugas sebagai menteri pada hari ini dengan melakukan perkenalan kepada karyawan dan berdiskusi santai dengan lima direktur jenderal (dirjen) serta tiga kepala bidang di sofa ruangan kerjanya. KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti memberikan keterangan pers di Kementerian Kelautan dan Perikanan, di Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta, Selasa (28/10/2014). Susi mulai bertugas sebagai menteri pada hari ini dengan melakukan perkenalan kepada karyawan dan berdiskusi santai dengan lima direktur jenderal (dirjen) serta tiga kepala bidang di sofa ruangan kerjanya.
Penulis Yoga Sukmana
|
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menceritakan pengalamannya saat menjadi bos Susi Air. Dia mengaku sering diprotes mengapa banyak menggunakan pilot asing untuk menerbangkan pesawatnya.

Atas "kegemarannya" menggunakan jasa pilot asing itu, Susi pun dituding tak nasionalis. Namun, Susi selalu membantah hal itu. Dia pun sering balik bertanya kepada orang yang menyebutnya tak nasionalis tersebut.

"Saya pernah ditodong pertanyaan, 'Bu Susi kenapa Susi Air banyak pilot bulenya?' Yang nasionalis itu, apakah yang bosnya Indonesia kalau anak buahnya bule, atau bosnya bule anak buahnya orang Indonesia?" kata Susi di depan para gubernur dari seluruh Indonesia di Gedung Mina Bahari III KKP, Jakarta, Selasa (17/2/2015).

Menurut Susi, ia menggunakan jasa pilot asing karena memang sulit mendapatkan pilot asal Indonesia. Hal itu, menurut dia, bukan semata-mata karena kemampuan pilot asing.

Lebih lanjut, kata dia, apabila pengalamannya itu direfleksikan ke dalam sektor kelautan dan perikanan, bisa terlihat bahwa masih banyak ABK Indonesia yang bekerja di kapal-kapal asing.

Dia pun berharap bahwa dengan berbagai terobosannya saat ini, para pekerja sektor kelautan, termasuk nelayan, bisa kembali mendapatkan manfaat besar dari sumber daya kelautan nasional.

"Sudah saatnya nelayan Indonesia kita bangkit. Tidak perlu kapal besar besar, Pak. Saya juga mohon maaf atas permen (peraturan menteri) saya yang menimbulkan pro kontra," ucap Susi.

Baca juga: Peraturan Susi Diterapkan, Hasil Tangkapan Nelayan Tradisional MelonjakDapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Realisasi Investasi 2021 Rp 901,2 Triliun, Bahlil: Lampaui Target dari Perintah Presiden

Realisasi Investasi 2021 Rp 901,2 Triliun, Bahlil: Lampaui Target dari Perintah Presiden

Whats New
Sasar Proyek Grup Waskita hingga IKN, WSBP Target Kontrak Baru 2022 Tumbuh 30 Persen

Sasar Proyek Grup Waskita hingga IKN, WSBP Target Kontrak Baru 2022 Tumbuh 30 Persen

Rilis
Kabar Gembira, Pemerintah Perpanjang Insentif PPh Final UMKM

Kabar Gembira, Pemerintah Perpanjang Insentif PPh Final UMKM

Whats New
'Emak-emak' Mengeluh Sulit Dapat Minyak Goreng Murah di Ritel Modern, Kemendag Ungkap Penyebabnya

"Emak-emak" Mengeluh Sulit Dapat Minyak Goreng Murah di Ritel Modern, Kemendag Ungkap Penyebabnya

Whats New
IHSG Ditutup Menguat 0,16 Persen, Rupiah Justru Melemah

IHSG Ditutup Menguat 0,16 Persen, Rupiah Justru Melemah

Whats New
Minyak Goreng Rp 14.000 Langka, Pengusaha Ritel Sentil Produsen dan Distributor

Minyak Goreng Rp 14.000 Langka, Pengusaha Ritel Sentil Produsen dan Distributor

Whats New
Biaya, Syarat, dan Cara Mengurus STNK Hilang atau Rusak di Samsat

Biaya, Syarat, dan Cara Mengurus STNK Hilang atau Rusak di Samsat

Whats New
Salurkan Kredit ke Sektor Prioritas, Bank Akan Dapat Insentif

Salurkan Kredit ke Sektor Prioritas, Bank Akan Dapat Insentif

Whats New
Transaksi Belanja di Malaysia dan Thailand Bisa Pakai QRIS

Transaksi Belanja di Malaysia dan Thailand Bisa Pakai QRIS

Whats New
Omicron Melonjak, Sri Mulyani: Ini Akan Jadi Perhatian agar Tak Pengaruhi Pemulihan Ekonomi

Omicron Melonjak, Sri Mulyani: Ini Akan Jadi Perhatian agar Tak Pengaruhi Pemulihan Ekonomi

Whats New
OJK Ingatkan, Hati-hati jika Ada Pinjol Ilegal 'Catut' Nama OJK

OJK Ingatkan, Hati-hati jika Ada Pinjol Ilegal "Catut" Nama OJK

Spend Smart
Perluas Layanan QRIS ke Negara Tetangga, BI Gandeng Bank Negara Malaysia

Perluas Layanan QRIS ke Negara Tetangga, BI Gandeng Bank Negara Malaysia

Whats New
Tingkat Utang RI Naik 10,8 Persen, Sri Mulyani: Lebih Baik Dibanding Negara Berkembang Lain

Tingkat Utang RI Naik 10,8 Persen, Sri Mulyani: Lebih Baik Dibanding Negara Berkembang Lain

Whats New
Targetkan 10 Juta Pohon, Mentan: Alhamdulillah, Kopi Indonesia Sangat Diminati...

Targetkan 10 Juta Pohon, Mentan: Alhamdulillah, Kopi Indonesia Sangat Diminati...

Whats New
Bank Indonesia Prediksi The Fed Naikkan Fed Fund Rate 4 Kali di Tahun Ini

Bank Indonesia Prediksi The Fed Naikkan Fed Fund Rate 4 Kali di Tahun Ini

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.