Kompas.com - 09/03/2015, 11:39 WIB
Rencana lokasi pelabuhan Cilamaya sebagai penyokong kegiatan industri. KarawangIDRencana lokasi pelabuhan Cilamaya sebagai penyokong kegiatan industri.
Penulis Yoga Sukmana
|
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com - Proyek pembangunan Pelabuhan Cilamaya menimbulkan friksi antara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dengan Pertamina. Kemenhub sendiri sudah menegaskan bahwa proyek tersebut tetap akan jalan terus meski ditentang oleh Pertamina.

Kementerian Perhubungan yang dipimpin oleh Ignasius Jonan  punya dua alasan mengapa proyek pembangunan Pelabuhan Cilamaya harus tetap dijalankan. Pertama, pembangunan tersebut penting lantaran Pelabuhan Tanjung Priok dinilai sudah terlalu "sumpek" alias padat.

Belum lagi, akses jalan menuju Tanjung Priok dari kawasan Industri di Cikarang dan Karawang bisa dibilang jalur macet. Hal ini dinilai membuat arus barang dan orang ke pelabuhan menjadi tersendat.

Kedua, Menteri Perhubungan Ignasius Jonan pernah mengatakan bahwa Pelabuhan Tanjung Priok membutuhkan persaingan sehingga mempu "lebih bergairah" memperbaiki infrastruktur dan layanan di pelabuhan. Disatu sisi, pembangunan pelabuhan Cilamaya juga dinilai akan mempermudah akses pengiriman barang dari kawasan industri ke pelabuhan.

Sementara itu Pertamina tak mau kalah, bahkan punya "amunisi" argumentatif yang lebih kompleks dan cenderung "mengerikan".  Pertamina menyebutkan, di area pantai dan Pembanguan Pelabuhan Cilamaya itu terdapat  jaringan pipa dan sumur migas bawah laut Blok ONWJ (Offshore North West Java). Infrastruktur migas inilah yang dikhawatirkan Pertamina bisa menuai musibah apabila sampai tertabrak kapal-kapal besar jika pelabuhan Cilamaya beroperasi.

Menurut Vice President Coorporate Communication Pertamina Ali Mudakir, selain akan menimbulkan ledakan hebat diarea tersebut, kerusakan infrastruktur migas di ONWJ juga akan merembet ke hal lain.

Misalnya, kehilangan potensi penerimaan APBN dari Blok ONWJ yang memproduksi minyak 40.000 barel per hari dan gas 200.000 mmscfd. Saat ini cadangan migas di wilayah tersebut menurut Pertamina masih 750 juta barel.  Apabila patokan harga minyak mentahnya rata-rata 60 dollar AS per barel, maka nilainya setara dengan 45 miliar dollar AS.

Potensi lain, Pertamina menyakini pasokan gas untuk listrik PLTGU Muara Karang dan PLTGU Tanjung Priok, yang sebagiannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sepertiga wilayah DKI Jakarta akan terhenti. "Jakarta bisa gelap gulita," ujar Ali, Jakarta, Kamis (5/3/2015).

Tak sampai disitu, terhentinya suplai gas ONWJ yang saat ini memasok gas untuk Kilang Balongan yang mengancam ketersediaan BBM dan elpiji bagi masyarakat. Bahkan, Pertamina menyakini sektor pertanian akan terkena imbas. Pasalnya, pabrik Pupuk Kujang juga mendapatkan suplai gas dari ONWJ.

Secara khusus sektor pertanian dan perikanan di wilayah Cilamaya akan terganggu akibat peralihan fungsi lahan pertanian dan juga wilayah pesisir. "ONWJ jelas untuk kepentingan nasional, Pelabuhan Cilamaya untuk kepentingan siapa?," kata Ali.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.