Kompas.com - 09/03/2015, 13:16 WIB
Presiden Joko Widodo saat memutuskan solusi atas konflik KPK-Polri di Istana Merdeka, Rabu (18/2/2015). Presiden batal melantik Komjen Budi Gunawan sebagai Kapolri. Kompas.com/SABRINA ASRILPresiden Joko Widodo saat memutuskan solusi atas konflik KPK-Polri di Istana Merdeka, Rabu (18/2/2015). Presiden batal melantik Komjen Budi Gunawan sebagai Kapolri.
EditorErlangga Djumena

Oleh Christianto Wibisono*

KOMPAS.com - Pada hari Rabu, 4 Maret rupiah terpuruk menembus angka 13.000 per dollar AS ketika Kepala Staf Kepresidenan Luhut Panjaitan sedang berada di Washington DC mengatur KTT Obama Jokowi bulan Juni 2015. Yang menarik ialah pertemuan Luhut dengan Ernest Bower, senior adviser dan Sumitro Chair for Southeast Asia Studies & codirector Pacific Partners Initiative di CSIS Washington (think tank independen di Washington DC yang tidak ada hubungannya dengan CSIS Tanah Abang).

CSIS Washington mendirikan Sumitro Chair dengan co financing dari Hasyim Djojohadikusumo (adik Prabowo Sugianto) yang mengabadikan nama ayahandanya untuk memimpin pusat kajian Sumitro Djojohadikusumo tentang ASEAN di CSIS.

Ernest Bower adalah lobbyist AS yang bersama Karen Brooks pernah merupakan mata dan telinga Presiden Megawati dan Taufik Kiemas.  Karena fasihnya Karen berbahasa Indonesia sehingga Presiden Megawati tidak memerlukan penerjemah untuk mengatur KTT Megawati George Bush. Ketika itu dengan percaya diri, Megawati mengabaikan teriakan Amien Rais yang minta Megawati membatalkan KTT dengan Bush setelah ambruknya menara kembar WTC 11September 2001.

Dinamika konflik politik internal elite RI memang sangat volatile yang berdampak dan tercermin dari keterpurukan rupiah selama 7 presiden dan 70 tahun RI. Di awali dengan kurs yang sama dengan dollar Malaya (sekarang dollar Singapura), mata uang gulden Hindia Belanda menjadi rupiah yang masih setara hingga 1950.

Di bawah Presiden Sukarno, 3 menteri keuangan dari 3 partai berbeda melakukan pengguntingan dan pemotongan nilai uang. Syafrudin Prawiranegara Menkeu Masyumi Kabinet RIS (PM Mohamad Hatta) menggunting uang pada Maret 1950. Pada 24 Agustus 1959 Menkeu yang dijabat PM Djuanda (tidak berpartai) dan Menteri muda Keuangan Notohamiprojo (tokoh AJB Bumiputera 1912) menurunkan nilai mata uang Rp 1.000 dan Rp 500 menjadi Rp 100 dan Rp 50. Deposito perbankan diatas Rp 25.000 disita menjadi Obligasi 40 tahun.

Sekitar 6 tahun kemudian 13 Desember 1965 Rp 1.000 uang lama diganti dengan Rp 1 uang baru oleh Menko Keuangan Sumarno (ayahanda Menteri Rini Sumarno) di bawah payung Waperdam III Chairul Saleh. Sumarno dan Chairul formalnya tidak berpartai meski Sumarno dianggap dekat PNI dan Chairul Saleh tokoh Murba yang sempat menarik pistol di salah satu sidang kabinet 1964 di Istana Bogor menantang ketua CCPKI DN Aidit untuk berduel .

Presiden Soeharto melakukan 4 kali devaluasi, 1971 dan 1978 dilakukan oleh tokoh Mafia Berkeley Prof Dr Ali Wardhana yang memegang rekor jabatan Menkeu terlama dalam sejarah Republik sejak 1968-1983. Setelah itu Radius Prawiro yang lebih senior dari Kwik Kian Gie, alumnus Rotterdam malah mendevaluasi rupiah 2 x dalam 3 tahun (31 Maret 1983 dan 12 September 1986). Sumarlin yang menggantikan diwanti wanti oleh Soeharto agar tidak memalukan sang “raja Jawa” setiap kali pidato ekonomi kuat tapi ternyata rupiah terus terpuruk.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pada krisis Perang Teluk 1991 Sumarlin melakukan tight money policy (politik uang ketat), gebrakan Sumarlin menaikkan suku bunga overnight sampai 100 persen.

Diplomasi setara
Ketika krisis baht merebak pada 2 Juli 1997 PDBI mengusulkan kepada Gubernur BI Sudrajad dan Mensesneg Moerdiono agar Presiden membuang gengsi dan segera menyerah mendevaluasikan rupiah dari Rp 2.300 waktu itu langsung menjadi Rp 5.000 per dollar AS. Reaksi pemerintah adalah paduan suara retorika bahwa fundamental ekonomi RI kuat dan karena itu dollar juga dilepas tidak lagi dikendalikan oleh Bank Indonesia.

Maka jebollah bendungan kepercayaan rakyat yang memang sudah sangat tipis dan rupiah hancur ke Rp  17.000 pada Januari 1998. Ketua MPR Harmoko tetap memaksakan pelantikan Soeharto 14 Maret 1998 tetapi akan menikam Soeharto 18 Mei dan akan lengser 21 Mei 1998.

Halaman:
Baca tentang


Sumber
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X