Garuda Indonesia Coba Bangkit dari "Turbulensi" Keuangan

Kompas.com - 20/03/2015, 22:45 WIB
Direktur Utama Garuda Indonesia Arif Wibowo. KOMPAS.COM/ARI DWI PRASETYODirektur Utama Garuda Indonesia Arif Wibowo.
Penulis Yoga Sukmana
|
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com - Maskapai penerbangan nasional PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk mengalami "turbulensi" keuangan karena membukukan kerugian 371,9 juta dollar AS atau sekitar Rp 4,87 triliun (kurs Rp 13.100 per dollar AS)  pada tahun 2014.

Kerugian Garuda itu menurut Vice Presiden Coorporate Communication Pujobroto diakibatkan faktor eksternal yaitu depresiasi rupiah, serta sempat tingginya harga bahan bakar yang menekan profit mengingat biaya bahan bakar merupakan salah satu komponen biaya operasional terbesar, yaitu mencapai 40 persen.

Selain karena faktor eksternal, tertekannya profit Garuda juga dipengaruhi oleh lambatnya pengembangan infrastruktur transportasi udara nasional yang berdampak pada inefisiensi operasional penerbangan. Padahal, persaingan penerbangan yang semakin ketat di Asia Pasifik karena ekspansi maskapai penerbangan murah dan maskapai penerbangan Timur Tengah juga menjadi faktor penghalang.

Di sisi lain turbulensi keuangan Garuda juga diakbinatkan faktor internal, tertekannya kinerja Garuda juga dipengaruhi investasi dalam pengembangan armada dan Citilink selama periode dua tahun terakhir.

Meskipun begitu, Garuda mengatakan bahwa investasi itu dilakukan guna memperkuat fondasi dan fundamental perusahaan.

Bangkit di 2015

Jajaran Direksi baru Garuda di bawah komando Arif Wibowo menyatakan akan mengetatkan ikat pinggang semenjak diangkat pada akhir tahun lalu. Berbagai cara pun dilakukan guna memperbaiki keungan Garuda yang masih mengalami guncangan.

Garuda mengambil kebijakan yang dinilai sebagai Quick Wins yang terdiri dari 3 strategi utama yaitu pemeringkatan revenue generator, restrukturisasi cost driver, dan kegiatan reprociling khususnya terhadap semua fasilitas pembiayaan komersil. Hasilnya, pada bulan Februari 2015 Garuda membukukan keuntungan sebesar 1,2 juta dollar AS.

Jika dibandingkan bulan Januari 2015, angka itu naik signifikan karena net income bulan Januri negatif 2,8 juta dollar AS.

Menurut Dirut Garuda Arif Wibowo, membaiknya kinerja Garuda pada awal tahun ini tak terlepas dari mulai terlihatnya dampak positif dari program quantum leap yang membuat Garuda menjadi pemain dunia.

"Pencapaian itu akan jadi pondasi kuat pengembangan Garuda ke depan, terutama menghadapi tantangan industri penerbangan saat ini," ujar dia di Jakarta, Jumat (20/3/2015).

Sementara itu, Arif mengatakan bahwa tantangan besar bagi Garuda saat ini adalah tekanan dari melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar yang mencapai Rp 13.200 per dollar AS. Padahal, asumsi biaya produksi Garuda kisaran nilai tukar Rupiah terhadap dollar hanya Rp 13.000 dan harga minyak dunia 70 dollar AS per barel.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X