Penuhi Listrik 35.000 MW, Perbanyak PLTU Mulut Tambang

Kompas.com - 23/03/2015, 11:12 WIB
Hasil karya foto PLTU Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat. KOMPAS.com/Rio KuswandiHasil karya foto PLTU Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat.
|
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com
– Untuk mencapai realisasi penambahan kapasitas listrik 35.000 megawatt (MW) pada 2019, pemerintah diharapkan memperbanyak Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) mulut tambang. Ketua Council International of Large Electric System (CIRGE) Indonesia, Herman Darnel Ibrahim mengatakan, satu dari beberapa cara murah memproduksi listrik adalah membangun PLTU mulut tambang.

Hasil studi membuktikan biaya mengangkut batu bara lebih mahal daripada biaya mengangkut listrik. Di PLTU mulut tambang tidak ada transaksi batu bara, sehingga dalam kontrak harga listrik tidak dipisahkan komponen bahan bakarnya.

“Pemerintah perlu menentukan beberapa tambang yang dikhususkan untuk pembangkit listrik,” kata Herman dalam diskusi Minggu (22/3/2015).

Saat ini Indonesia belum memiliki PLTU mulut tambang. Belum adanya ketentuan peraturan yang memisahkan izin penambangan dengan izin pengusahaan ketenagalistrikan ditengarai sebagai biang kerok belum adanya PLTU mulut tambang.

Herman menegaskan, tidak sulit merealisasikan PLTU mulut tambang kalau Presiden dan menteri bertemu. Undang-undang Pertambangan Mineral dan Batubara segera diubah. Jika lebih banyak batubara yang digunakan di dalam negeri, maka harganya pun tidak akan terpengaruhi harga internasional.

“Dan inti dari PLTU mulut tambang bukan cepatnya. Tapi kalau kita mau bikin listrik di negeri kita ini murah, maka perbanyaklah PLTU mulut tambang. Karena tidak ada yang bisa lebih murah dari PLTU mulut tambang. Salah satu concern yang harus di-address dalam kebijakan energi adalah bagaimana listrik harganya stabil dan murah,” kata Dewan Penasehat Masyarakat Kelistrikan Indonesia ini.

Lebih lanjut dia menuturkan, Indonesia merupakan satu dari 10 negara produsen terbesar batu bara. Tiap tahun Indonesia memproduksi sekitar 420 juta ton batu bara, dengan pemakaian domestik hanya 60 juta ton. Indonesia tidak termasuk dalam 10 negara dimana persentase listrik dari batu baranya terbesar. Menurut Herman, ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak memanfaatkan batu bara dengan baik bagi perekonomiannya. Padahal, batu bara yang diekspor ke negara lain juga dibakar dan menimbulkan efek gas rumah kaca.

Herman yakin dengan mengurangi ekspor, Indonesia berperan dalam menekan efek gas rumah kaca. Asal teknologi bersih digunakan dalam pembangkit listrik domestik.

Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Siti Nurbaya Bakar sependapat banyak sisi positif jika pemerintah membangun PLTU mulut tambang.

Dari sisi lingkungan, pembangunan PLTU mulut tambang akan mengurangi kebutuhan lahan dan atau kawasan hutan. Sebab penambangan dan pembangkit ada dalam satu wilayah. Selain itu, infrastruktur seperti jalan dan rel yang digunakan untuk mengangkut sumber energi bisa terpisah dari infrastruktur umum.

“Rata-rata komplainnya pemda, angkutan batubaranya merusak jalan,” ungkap Siti.

Terakhir, PLTU mulut tambang akan mempertegas posisi domestic market obligation (DMO) serta akan berkontribusi terhadap pengurangan emisi karbon.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X