Kompasiana Nangkring Kedua Kalinya Gelar Diskusi Industri Hulu Migas

Kompas.com - 01/04/2015, 07:15 WIB
Kompasiana Nangkring di Kafe Pisa, Jakarta Selatan, Selasa (31/3/2015) membahas Industri Hulu Migas bersama SKK Migas. Kompasiana/Wardah FajriKompasiana Nangkring di Kafe Pisa, Jakarta Selatan, Selasa (31/3/2015) membahas Industri Hulu Migas bersama SKK Migas.
EditorTri Wahono


Sukses membedah industri Hulu Migas lewat Kompasiana Nangkring bareng SKK Migas pada 14 Februari 2015, Kompasianer untuk kedua kalinya berkesempatan menggali industri Hulu Migas dan kegiatan di dalamnya.

Kompasiana Nangkring Industri Hulu Migas kedua yang digelar Selasa (31/3/2015) lebih menyoroti fungsi pengelolaan rantai suplai hulu migas dan perannya meningkatkan peran Sumber Daya Manusia (SDM) dan industri dalam negeri pada kegiatan hulu migas.

Sebanyak 57 Kompasianer menghadiri Kompasiana Nangkring dan antusias mengikuti paparan dua narasumber, Rudianto Rimbono, Kepala Bagian Humas SKK Migas dan Hery Margono, Kepala Divisi Pengelolaan Rantai Suplai SKK Migas, dengan sesi diskusi dibuka oleh Moderator Alexander Ginting, Pendiri dan Pemimpin Redaksi Media Energi dan Tambang.

Antusiasme peserta juga terlihat dari sesi tanya jawab setelah masing-masing pembicara membuka wawasan mengenai latar belakang industri Hulu Migas yang kompleks, hingga tujuan dan aspek dari fungsi pengelolaan rantai suplai Hulu Migas.

Bukan tanpa alasan, SKK Migas atau Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas dan Gas Bumi mulai melirik komunitas media sosial untuk menyampaikan berbagai informasi dan membuka wawasan warga mengenai industri dan kegiatan hulu migas.

Rudianto mengatakan saat ini media sosial menjadi cara komunikasi publik yang tidak kalah dibandingkan mainstream. Baginya, melalui event seperti Kompasiana Nangkring, SKK Migas bisa bertemu langsung dengan komunitas media sosial atau blogger.

"Harapannya bukan hanya sarana menyampaikan industri Hulu Migas, namun kegiatan seperti ini menjadi sarana mendapatkan masukan dari publik. Persepsi publik didapatkan dari kegiatan ini sehingga SKK Migas bisa mengetahui hal apa yang menjadi perhatian publik, apakah sudah sesuai atau ada yang belum sesuai, ini akan menentukan strategi komunikasi ke depannya," tutur Rudianto di sela Kompasiana Nangkring di Pisa Cafe Mahakam, Jakarta.

Jelang SCM Summit

Kompasiana Nangkring industri Hulu Migas kedua juga digelar menyambut SCM Summit 2015 yang akan berlangsung 14-16 April 2015. Rudianto mengatakan SCM Summit merupakan pertemuan berkala pelaku rantai suplai industri Hulu Migas.

Topik yang kerap menjadi pembahasan di SCM Summit juga sebagian dibahas di Kompasiana Nangkring. Di antaranya peluang yang bisa diambil dari industri Hulu Migas untuk meningkatkan kemampuan dalam negeri. Mulai kompetensi personal terkait peningkatan SDM Nasional, manajemen penyediaan barang jasa, kebijakan di industri Hulu Migas.

Menurut Rudianto, berbagai aspek yang dibahas ini tujuannya adalah memaksimalkan manfaat industri Hulu Migas untuk menumbuhkan industri Hulu Migas sesuai UU 22/2001 tentang Minyak dan Gas Bumi.

"Namun yang terpenting menurut kami adalah masyarakat sadar bahwa kegiatan Hulu Migas adalah proyek negara, perusahaan asing adalah kontraktor yang tidak bisa bekerja programnya tanpa seizin kita walau modal berasal dari mereka," tutup Rudianto. (WAF)

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X