Berkat Jangkrik, Lulusan ITB Ini Raup Omzet hingga Rp 500 Juta Per Bulan

Kompas.com - 09/04/2015, 09:58 WIB
EditorErlangga Djumena

Bambang bercerita, Desa Bakung Kidul, Kecamatan Jamblang, yang menjadi tempat tinggalnya dulu, merupakan sentra industri rotan. Namun, sejak tahun 2008, industri rotan di wilayah tersebut mati sehingga banyak perajin rotan menganggur.

Karena itu, ketika dia membuka usaha Trust Jaya Jangkrik di bawah bendera CV Jaya Tani yang bergerak di bidang budidaya jangkrik pada 2010, itu menjadi peluang pekerjaan bagi orang-orang di desanya. Sebab, Bambang mempekerjakan perajin rotan yang menganggur untuk membantunya meski pada saat itu baru bisa merekrut beberapa orang.

Selama setahun, Bambang mengaku masih belum bisa menikmati keuntungan dari penjualan jangkrik. Sebab, dia masih harus memutar uang yang didapat untuk dijadikan modal agar usahanya terus berjalan dan berkembang. Tidak jarang ia juga mengalami kerugian karena banyak telur dan jangkrik yang mati dan akhirnya tidak bisa dikirim.

Masa hidup jangkrik cukup singkat, dari telur hingga mati hanya dua bulan. Karena itu, ketika panen, jangkrik harus segera dikirim ke pelanggan. Jika tidak, jangkrik akan mati. Oleh sebab itu, jika belum ada pemasok, mau tidak mau Bambang harus menelan kerugian. Tidak jarang dia sampai harus merugi hingga belasan juta rupiah.

Namun, konsistensinya selama lebih dari setahun akhirnya membuahkan hasil. Lambat laun pemesan yang datang makin banyak. Salah satu cara yang dia tempuh ialah dengan membuat situs pemasaran jangkrikindonesia.com. Hingga kini, Trust Jaya Jangkrik berkembang menjadi kawasan budidaya jangkrik terbesar di Cirebon dengan luas 1 hektar.

Hasil jangkrik budidayanya banyak didistribusikan ke toko-toko burung dan para pehobi burung kicauan, sedangkan telur jangkrik dipasarkan hampir ke setiap wilayah Indonesia dari Aceh sampai Papua. Fokus utama Bambang adalah melakukan pengembangbiakan jangkrik dan memastikan kualitas dan telurnya selalu terjaga baik.

Di samping itu, dia juga membuka pelatihan bagi pembudidaya pemula untuk belajar membudidayakan jangkrik. Meski Bambang tidak memiliki latar belakang ilmu pertanian, empat tahun terjun di dunia ini membuat Bambang sudah paham betul bagaimana menghasilkan jangkrik kualitas prima.

Kapasitas produksinya saat ini sebanyak 200 kg jangkrik per hari dan 8 kg telur jangkrik per hari. Bagi Bambang, angka itu dirasa masih harus ditingkatkan dan dia harus terus meluaskan pasarnya hingga ke seluruh Indonesia. Oleh sebab itu, dia terus mendorong warga Cirebon untuk bergabung bersamanya menyuplai jangkrik untuk menambah produksi. (Rani Nossar)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Sumber
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.