Kompas.com - 10/04/2015, 09:00 WIB
EditorBambang Priyo Jatmiko

Rata-rata di Indonesia, keuntungan atas kepemilikan sebuah saham berkisar antara 2–4 persen. Tentunya, nilai rilnya bisa di atas dan di bawah angka tersebut. Artinya bila Anda membeli sebuah saham perusahaan otomotif, maka setiap kali ada pembagian keuntungan, Anda bisa mendapatkan dividen sebesar 2 persen hingga 4 persen.

Nilai tersebut akan diberikan sesuai dengan kinerja perusahaan, dan tentunya penentuan nilai yang dibagikan berdasarkan persetujuan semua pemilik perusahaan (pemegang saham) dalam sebuah rapat yang dikenal dengan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Saya pribadi, bila menganalisis perusahaan dengan fokus mengejar dividen, maka saya akan melihat perusahaan mana saja yang selama 10 tahun terakhir rajin membagikan keuntungan.

Karena apa, dalam rapat bisa saja diputuskan keuntungan tidak dibagikan kepada pemegang saham di tahun tersebut, sehingga dengan melihat bahwa dalam 10 tahun terakhir perusahaan tersebut rajin membagikan dividen, maka saya cukup yakin bahwa perusahaan itu menguntungkan.

Hal ini saya perjelas dan detailkan dalam buku ke-7 saya yang berjudul Passive Income Strategy.

Saham perusahaan yang menguntungkan biasanya memiliki dua karakteristik:  perusahaan tersebut membagi keuntungannya lebih dari sekali setahun, dan produk perusahaan tersebut memiliki pesaing di pasaran. Apakah masuk akal?

Dan bila kita semua sebagai pemegang sahamnya diuntungkan, apakah Anda mau menjual sahamnya? Jawabannya, bisa iya dan tidak. Namun, apakah Anda mau menjual murah saham dari sebuah perusahaan yang menguntungkan? Tentu saya kira jawabannya adalah tidak. Tapi bagaimana bila saya menawar saham yang Anda miliki, sampai 2 kali lipat dari harga Anda beli? Ya, bisa jadi Anda berminat, karena Anda langsung untung 100% ketika saya membelinya.

Bagaimana bila dalam suatu waktu yang sama, semua orang berpikir untuk membeli dan menjual saham dengan angka yang sama? Ya, itulah yang dikenal dengan kenaikan harga saham. Karena salah satu alasan inilah, harga saham bisa bergerak naik dan tentunya juga turun.

Ada sekelompok pelaku di pasar saham yang mengambil keuntungan bukan dari dividen yang dibagikan, namun dengan mengambil kesempatan dari pergerakan harga yang naik dan turun. Dalam keadaan sehari-hari, Anda akan menemukan istilah pedagang saham atau trader.

Pada umumnya, pergerakan harian dari saham-saham yang ada bukan dikarenakan laporan keuangan yang membaik maupun memburuk, karena kinerja laporan keuangan hanya ada secara kwartal dan tahunan. Pergerakan secara harian lebih karena berita makro ekonomi, seperti kenaikan harga barang-barang akibat inflasi, bunga bank, nilai ekspor dan impor yang naik turun, serta kurs harga tukar.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.