Wujudkan Kota Cerdas Butuh Partisipasi Warga Juga Kebijakan Cerdas

Kompas.com - 26/04/2015, 07:00 WIB
Kompasiana Nangkring mengupas kota cerdas digelar di Jakarta, Sabtu (25/4/2015). KOMPASIANAKompasiana Nangkring mengupas kota cerdas digelar di Jakarta, Sabtu (25/4/2015).
EditorTri Wahono


JAKARTA, KOMPAS.com
– Harian Kompas bekerja sama dengan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) dan Institut Teknologi Bandung telah meluncurkan Indeks Kota Cerdas Indonesia (IKCI) 2015 pada 24 Maret 2015 di Jakarta.

Masih dalam rangkaian peluncuran IKCI 2015, Kompasiana bersama PGN dan Harian Kompas menggelar Nangkring IKCI 2015, mengajak pewarta warga berpartisipasi aktif mewujudkan smart city.

Kompasiana Nangkring bareng PGN bertema "Kotaku Kota Cerdas!" menghadirkan pembicara antara lain Ignatius Kristanto Hadisaputro selaku Research Manager, Divisi Penelitian & Pengembangan Harian Kompas, Adi Munandir selaku Executive Officer, Unit Manajemen Strategis PT PGN Tbk, dan Tri Agung Kristanto sebagai Kepala Desk Nusantara Harian Kompas.

Partisipasi masyarakat/warga menjadi sorotan dalam paparan pemateri di Kompasiana Nangkring bareng PGN. Kristanto mengatakan sebuah kota tidak termasuk dalam kriteria cerdas kalau masyarakatnya pasif. Salah satu bentuk partisipasi warga adalah melalui tulisan-tulisan warga yang memberitakan, menginformasikan, juga menyampaikan kelebihan termasuk kekurangan di kotanya. Semakin banyak partisipasi masyarakat, semakin banyak komunitas, semakin cerdas kota tersebut.

"Partisipasi masyarakat termasuk lewat tulisan juga menjadi ukuran," kata Kristanto dalam Kompasiana Nangkring bareng PGN di Pisa Kafe Mahakam, Jakarta (25/4/2015).

Ratna Sri Widyastuti, Supervisor Kajian Ekonomi dan Wilayah Divisi Litbang Harian Kompas mengatakan, untuk mengukur Kota Cerdas, penilaian sejumlah aspek dengan bobot utamanya terletak di aspek ekonomi sebuah kota, kemudian disusul aspek sosial dan lingkungan.

Dari 98 kota, akan dinilai 93 kota untuk kemudian dipilih lima besar per kategori (Kota Besar dengan jumlah penduduk di atas 1 juta, Kota Sedang dengan jumlah penduduk hingga 1 juta, Kota Kecil) untuk mencari kota tercerdas yang akan menjadi role model Kota Cerdas di Indonesia. Proses penilaian ini akan berlangsung hingga Juni 2015.

Terlepas dari penilaian yang dilakukan Litbang Kompas, Harian Kompas juga menampilkan 98 kota di Indonesia dengan berbagai inovasi yang dilakukan wali kota dan masyarakat setempat, sekaligus juga mengungkap berbagai persoalan dan tantangan yang harus dipecahkan kota tersebut.

Tri Agung Kristanto atau akrab disapa Tra mengatakan setiap hari akan sealu ada kota di Indonesia yang diberitakan mulai 1 April hingga 31 Juli. Sampai 25 April ini ada 21 kota yang sudah ditampilkan Harian Kompas dengan berbagai kekurangan dan kelebihan kota tersebut.

Dalam mengukur seberapa cerdas sebuah kota banyak aspek yang diperhitungkan juga memengaruhinya. Bandung kerap disebut sebagai Kota Cerdas, tak lepas dari pengaruh peran pakar dan perguruan tinggi di kota Tersebut. Bandung memiliki Institut Teknologi Bandung yang membuatnya dapat berinovasi dengan kecanggihan teknologi. Meski begitu, menurut Tra, sebuah kota dapat masuk kategori cerdas tanpa harus menampilkan teknologi.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X