Petani Bojonegoro Menjerit, Harga Gabah Terus Anjlok

Kompas.com - 07/05/2015, 15:16 WIB
Menteri Pertanian Amran Sulaiman saat melakukan pengecekan langsung harga gabah di tingkat petani dan penggilingan kecil Ngudi Makmur, Gangsiran Madurejo, Prambanan, Sleman, dan penggilingan padi di Bowan Delanggu, Klaten, Jumat (24/4/2015) petang. Dok Kementan Menteri Pertanian Amran Sulaiman saat melakukan pengecekan langsung harga gabah di tingkat petani dan penggilingan kecil Ngudi Makmur, Gangsiran Madurejo, Prambanan, Sleman, dan penggilingan padi di Bowan Delanggu, Klaten, Jumat (24/4/2015) petang.
EditorLatief
BOJONEGORO, KOMPAS.com - Harga gabah hasil panen padi di tingkat petani di Kabupaten Bojonegoro terus anjlok pasca musim panen tahun ini. Kondisi tersebut membuat petani makin menjerit dan mengharapkan harga gabah hasil panen tetap stabil.

Sukir, petani di Dusun Glagah, Desa/Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro mengungkapkan, pasca panen terakhir, harga gabah yang dihasilkannya terus merosot. Dia menuturkan, harga gabah yang semula Rp 3.500 per kilogram, dalam sebulan terakhir ini turun menjadi Rp 3.200. Harga itu kemudian turun lagi menjadi Rp 3.000, bahkan sempat anjlok hingga Rp2.800 per kilogram di Desa Sakirman.

"Awal musim panen dulu harga jual gabah masih di kisaran Rp 4.200. Masuk panen raya, harga anjlok di kisaran Rp 3.500, lalu turun lagi Rp 3.200 per kilo, dan sekarang anjlok lagi di kisaran Rp 3.000 per kilonya," ujarnya saat ditemui di areal sawah garapannya, Rabu (6/5/2015).

Akibat terus anjloknya harga jual gabah hasil panen, petani merugi dan tidak cukup untuk membiayai musim tanam kedua. Belum lagi hasil panen padi di lahan sawahnya tidak maksimal akibat serangan hama.

"Kalau normal, satu hektare lahan sawah itu mampu menghasilkan 7-8 ton gabah," ujarnya sambil menjemur gabah padi.

Saat ini lahan persawahan di wilayah Bojonegoro yang panen padi hampir habis. Tercatat sebanyak 103 ribu hektare lahan sawah di daerah bantaran Sungai Bengawan Solo dan di daerah lainnya mulai tanam padi kedua.

Dengan kondisi harga gabah yang anjlok, tak ayal tengkulak gabah banyak mengincar hasil panen padi di Kabupaten Bojonegoro. Mereka berasal dari berbagai daerah, seperti Jombang, Gresik, Banyuwangi, Blora, dan Pati, dan Jawa Tengah.

Petani lainnya, Haryono mengungkapkan, para tengkulak mengincar hasil panen padi di Bojonegoro karena dikenal sebagai daerah lumbung pangan. Bulog enggan menerima hasil panen petani setempat sehingga banyak gabah dibeli tengkulak dari luar daerah.

"Rendahnya harga gabah di Bojonegoro ini karena permainan para tengkulak. Bahkan, tengkulak itu masih menyetorkan gabah dari sini ke tengkulak lainnya, bisa sampai ketiga tengkulak, setelah itu entah ke mana," ujarnya.

Saat harga gabah jatuh, Divisi Regional III Sub-Bulog Bojonegoro dinilai kurang memainkan perannya untuk menyerap gabah petani sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk gabah kering panen (GKP) yang sudah ditetapkan pemerintah sebesar Rp3.700 per kilogram berdasarkan Inpres Nomor 5 Tahun 2015.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X