Kementan Kendalikan Serangan OPT, Banjir dan Kekeringan pada Tanaman Padi

Kompas.com - 22/05/2015, 10:20 WIB
Mentan Amran Sulaiman bersama Kepala Dinas Pertanian Bali dan Pejabat Babinsa menyusuri sawah untuk melihat padi di Subak Cemagilet, Banjar Pengayehan, Desa Cemagi, Mengwi, Badung, Bali (7/2/15) DOKUMEN KEMENTANMentan Amran Sulaiman bersama Kepala Dinas Pertanian Bali dan Pejabat Babinsa menyusuri sawah untuk melihat padi di Subak Cemagilet, Banjar Pengayehan, Desa Cemagi, Mengwi, Badung, Bali (7/2/15)
Penulis Latief
|
EditorLatief
JAKARTA, KOMPAS.com – Di tengah keseriusan mewujudkan swasembada pangan khususnya pada komoditi padi, yakni melalui program Upaya Khusus (Upsus), Kementerian Pertanian (Kementan) terus melakukan berbagai upaya pengendalian terhadap serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dan penanganan terhadap bencana banjir dan kekeringan. Dengan demikian, lahan padi petani dapat terjaga produksinya bahkan memberikan produksi yang meningkat.

Upaya yang dilakukan di antaranya melakukan pengendalian OPT utama pada tanaman padi seluas 362.617 hektar. Selain itu, Kementan juga mengirimkan surat peningkatan kewaspadaan dan antisipasi serta prakiraan awal Musim Kering (MK) tahun 2015 kepada Gubernur di seluruh Indonesia dan realisasi pelaksanaan penerapan PHT skala luas pada tanaman padi sampai Mei 2015 sebanyak 1 unit (10 ha) atau mencapi 4,00 persen dari rencana 25 unit (250 hektar).

"Selain itu kami juga meningkatkan koordinasi dengan instansi terkait serta melakukan monitoring dan evaluasi secara rutin terhadap perkembangan luas serangan OPT, banjir dan kekeringan. Lebih jauh, untuk mewujudkan daulat benih atau mengurangi ketergantungan benih di antara daerah, kami juga melakukan penyerahan Cadangan Benih Nasional (CBN)," ujar Plt. Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Pending Dadih Permana, dalam siaran persnya, Kamis (21/5/2015).

Berdasarkan laporan Kepala Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi seluruh Indonesia yang diterima Kementan tanggal 7 Mei 2015, pada Musim Hujan (MH) 2014/2015 (Oktober-Maret), luas lahan padi yang mengalami puso karena serangan serangan OPT, banjir dan kekeringan seluas 358 hektar.

"Dengan kata lain, sebesar 0,03 persen dari luas tanam sebesar 1.397.931 hektare," ujar Pending.

Pending lebih lanjut menjelaskan, luas puso tertinggi pada periode tersebut disebabkan karena banjir, yakni seluas 342 ha (0,41 persen dari luas tanam 1.397.931 ha) yang terjadi terutama di Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatera Barat. Sementara kekeringan, yakni seluas 15 ha (0,001 persen dari luas tanam 1.397.931 ha) terjadi di Provinsi D.I Aceh.

"Sedangkan puso yang disebabkan karena OPT seluas 1 hektar atau 0,00 persen dari luas tanam 1.397.931 hektar terjadi di Provinsi Jawa Timur," tambahnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sementara itu, pada Musim Kemarau (MK) 2014 yang berlangsung pada April hingga September, luas areal padi yang mengalami puso karena serangan OPT, banjir dan kekeringan mencapai 40.448 hektar (0,50 persen dar luas tanam 8.043.639 ha). Adapun luas puso terbesar pada periode tersebut, yakni disebabkan karena banjir seluas 34.221 hektar (0,43 persen dari luas tanam 8.043.639 ha), terjadi pada Desember terutama di Provinsi D.I Aceh, Jawa Timur dan Banten.

Luas puso terbesar

Puso disebabkan karena kekeringan seluas 5.890 ha (0,07 persen dari luas tanam 8.043.639 ha). Luas puso terbesarnya terjadi pada Oktober, terutama di Provinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Jawa Tengah.

Halaman:


25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Google Angkat Indeks Nasdaq saat Investor FOkus ke The Fed

Google Angkat Indeks Nasdaq saat Investor FOkus ke The Fed

Whats New
Apa Itu Audit: Definisi, Jenis, dan Tahapannya dalam Perusahaan

Apa Itu Audit: Definisi, Jenis, dan Tahapannya dalam Perusahaan

Whats New
[POPULER MONEY] Jam Kerja ASN selama PPKM | Bank Mandiri Mundur dari Aceh

[POPULER MONEY] Jam Kerja ASN selama PPKM | Bank Mandiri Mundur dari Aceh

Whats New
Ada Ketentuan Karantina 14 Hari, Biaya Umrah akan Lebih Mahal

Ada Ketentuan Karantina 14 Hari, Biaya Umrah akan Lebih Mahal

Whats New
Penjualan Listrik Tembus Rp 140,5 Triliun, Laba Bersih PLN Meroket Jadi Rp 6,6 Triliun

Penjualan Listrik Tembus Rp 140,5 Triliun, Laba Bersih PLN Meroket Jadi Rp 6,6 Triliun

Whats New
Wapres Ma'ruf Amin Ingin Wakaf Bisa Berbentuk Saham hingga Deposito

Wapres Ma'ruf Amin Ingin Wakaf Bisa Berbentuk Saham hingga Deposito

Whats New
Wapres Ma'ruf Amin Heran RI Kebanjiran Makanan Halal Impor

Wapres Ma'ruf Amin Heran RI Kebanjiran Makanan Halal Impor

Whats New
Penumpang Kereta di Sumatera Wajib Tunjukan Sertifikat Vaksin

Penumpang Kereta di Sumatera Wajib Tunjukan Sertifikat Vaksin

Whats New
Ini Fakta Terbaru Hasil Investigasi BRI Life Usai Ada Dugaan Kebocoran Data

Ini Fakta Terbaru Hasil Investigasi BRI Life Usai Ada Dugaan Kebocoran Data

Whats New
Semester I 2021, Astra Graphia Bukukan Pendapatan Bersih Rp 1,25 Triliun

Semester I 2021, Astra Graphia Bukukan Pendapatan Bersih Rp 1,25 Triliun

Rilis
SIDO Mau Bagikan Saham Bonus, Ini Cara Mendapatkannya

SIDO Mau Bagikan Saham Bonus, Ini Cara Mendapatkannya

Earn Smart
Pendaftaran Program Magister Terapan STIP Jakarta Ditutup, Ada 2.710 Peminat

Pendaftaran Program Magister Terapan STIP Jakarta Ditutup, Ada 2.710 Peminat

Rilis
Passing Grade CPNS 2021 Diumumkan Besok

Passing Grade CPNS 2021 Diumumkan Besok

Work Smart
[TREN EKONOMI KOMPASIANA] Menata Ulang Kerja Hybrid | 'Harga Teman', Komponen Harga yang Masih Misteri

[TREN EKONOMI KOMPASIANA] Menata Ulang Kerja Hybrid | "Harga Teman", Komponen Harga yang Masih Misteri

Rilis
Sektor Ketenagalistrikan Indonesia Sumbang 14 Persen Emisi, PLN: Terendah di ASEAN

Sektor Ketenagalistrikan Indonesia Sumbang 14 Persen Emisi, PLN: Terendah di ASEAN

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X