Garuda Belanja Pesawat Besar-besaran lewat Skema Sewa

Kompas.com - 18/06/2015, 12:49 WIB
EditorBambang Priyo Jatmiko

JAKARTA, KOMPAS.com - Tanda tanya pembelian sebanyak 90 pesawat baru oleh PT Garuda Indonesia Tbk mulai terkuak. Dari nilai transaksi pembelian pesawat di Paris Air Show dengan total nilai 20 miliar dollar AS atau setara Rp 267 triliun, 80 persen di antaranya memakai skema operating lease.

Penjelasan ini disampaikan I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra, Direktur Keuangan PT Garuda Indonesia Tbk, saat dihubungi KONTAN Rabu (17/6/2015). Sisanya sebesar 20 persen memakai skema pendanaan financial lease.

Penggunaan skema operating lease ini jamak ditemui di industri penerbangan. Dengan skema ini, Garuda membeli pesawat dari pabrikan pesawat terbang. Lantas Garuda menjual kembali pesawat tersebut ke lessor dan langsung menyewakannya lagi kepada Garuda. Alhasil, pesawat terbang tersebut milik dari lessor. "Operating lease sedang jadi tren di industri penerbangan dan tidak menambah beban," jelasnya.

Sementara itu dengan pola sewa pembiayaan (financial lease), nantinya pesawat bakal menjadi milik Garuda Indonesia.

Namun, Askhara tidak merinci lessor yang menjadi mitra Garuda. Ia juga tidak menjelaskan skema pembayaran cicilan sewa yang bakal dibayarkan Garuda kepada pihak lessor.

Yang jelas, pembayaran cicilan ini tidak tercatat dalam laporan keuangan. Pengaruh operating lease hanya muncul pada laporan laba rugi pencatatan biaya sewa.

Arif Wibowo, Presiden Direktur Garuda Indonesia menambahkan,  pembelian pesawat berbadan lebar ini merupakan bagian dari program revitalisasi serta pengembangan armada.

Tambahan armada ini bakal memperlancar operasional Garuda Indonesia di rute jarak menengah dan jarak jauh. Selain itu, adanya tambahan armada yang nanti bakal punya rata-rata usia lima tahun ini bisa menambah kenyamanan dan kualitas layanan Garuda.

Awal pekan ini Garuda membuat kesepakatan bisnis dengan dua pabrikan pesawat udara, yakni Boeing dan Airbus. Garuda memesan, sekitar 30 pesawat B-737 Max 8 bernilai 3,2 miliar dollar AS yang bakal tiba pada 2017. Adapun 30 pesawat tipe B 787-900 Dreamliners senilai 7,7 miliar dollar AS yang datang pada 2020.

Garuda juga memesan 30 unit Airbus tipe A350 XWB dengan total nilai pemesanan 9 miliar dollar AS. Hanya saja hingga kini belum diputuskan kapan bakal tiba di Tanah Air.

Di mata Analis BNI Securities, Thennesia Debora ekspansi Garuda Indonesia tergolong agresif meskipun maskapai ini baru membukukan laba kuartal I-2015. Ia menilai, dengan skema sale and lease back dirasa tidak akan menambah beban utang. "Namun beban operasional tetap meningkat karena ada beban sewa," katanya.

Meski begitu ia melihat ekspansi Garuda ini bisa memacu kinerja perusahaan ini dalam jangka panjang. Penambahan armada menjadi salah satu jalan keluar untuk mengejar pendapatan tinggi.

Tahun ini, Thennesia menyarankan Garuda berhemat. Bila ini terlaksana ia memprediksi maskapai ini bisa mencetak laba US$ 75 juta sampai akhir tahun ini. (Narita Indrastiti, RR Putri Werdiningsih)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber Kontan
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.