Kompas.com - 07/07/2015, 18:36 WIB
Pesawat Lion Air A320-200 mendarat di Bandara Adisucipto, Yogyakarta, 16 Mei 2014. SHUTTERSTOCKPesawat Lion Air A320-200 mendarat di Bandara Adisucipto, Yogyakarta, 16 Mei 2014.
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com — Mimpi Lion Group terbang ke Australia belum dapat terwujud. Pasalnya, manajemen menunda rencana penerbangan ke Australia hingga kondisi perekonomian dalam dan luar negeri stabil. Padahal, rencana ini sudah dicanangkan sejak tahun 2014 dengan target operasionalisasi pada tahun 2015.

Direktur Umum Lion Air Edward Sirait mengatakan, pihaknya belum dapat memastikan waktu ekspansi penerbangan ini. Namun, perusahaan tetap menyiapkan sejumlah opsi untuk penerbangan ke Negeri Kanguru, yakni mendirikan perusahaan baru atau menggunakan Batik Air untuk terbang ke sana.

"Kami akan mencari local partner dengan Australia jika menggunakan opsi pendirian perusahaan di sana," katanya, Senin (6/7/2015) malam.

Perusahaan maskapai ini juga telah berhitung soal investasi dan regulasi untuk pendirian maskapai di Australia. Namun, mereka belum dapat menginformasikan nilai investasi tersebut.

Ia melanjutkan, jika regulator Negeri Kanguru membuka jalur atau open sky untuk penerbangan Indonesia-Australia, maka Lion Grup membatalkan rencana mendirikan perusahaan di sana karena biayanya akan lebih murah dibandingkan mendirikan perusahaan di sana. "Mungkin saja Australia akan open sky dengan adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)," tambahnya.

Alasan perusahaan memilih ekspansi ke Australia lantaran ada pangsa pasar yang digarap dari negara ini. Misalnya, warganya memiliki kemampuan untuk membayar tiket dengan pelayanan penuh (full service) atau yang bertarif lebih mahal ketimbang tiket penerbangan low cost carrier. "Ada market internasional yang harus dipenuhi," ucapnya.

Sebagai informasi, Lion Grup saat ini memiliki 26 pesawat Batik Air dengan 80 penerbanganper hari. Jumlah lainnya adalah 103 pesawat Lion Air dan 41 pesawat Wings Air.

Edward mengatakan, rencana ekspansi ke Australia ini muncul karena perusahaan ingin mengulang kesuksesan Lion Grup saat berekspansi ke berbagai negara, seperti Malindo Air yang berbasis di Malaysia dan Thai Lion Air yang berbasis di Thailand pada tahun 2013 lalu. (Nina Dwiantika)

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.