Edukasi ke Konsumen, Bekal Masuk ke Pasar Ritel

Kompas.com - 04/08/2015, 20:43 WIB
Direktur PT Utomo Deck Anthony Utomo pada Senin (3/8/2015) mengatakan setelah 40 tahun berkecimpung di pasar proyek, Utomo Deck membidik pasar ritel dengan menggandeng toko-toko bangunan. PrimusDirektur PT Utomo Deck Anthony Utomo pada Senin (3/8/2015) mengatakan setelah 40 tahun berkecimpung di pasar proyek, Utomo Deck membidik pasar ritel dengan menggandeng toko-toko bangunan.
EditorJosephus Primus


KOMPAS.com - Edukasi ke konsumen menjadi bekal masuk ke pasar ritel. Berbeda dengan pasar proyek atau korporasi, tantangan di pasar ritel lebih beragam lantaran tingkat pemahaman konsumen berbeda satu sama lain. "Kami ekspansi ke pasar ritel setelah 40 tahun berpengalaman di pasar proyek," kata Direktur Pemasaran dan Operasional Utomodeck Metal Works Anthony Utomo pada Senin, kemarin.

Menurut Anthony, saat ini, permintaan di pasar ritel cukup besar. Pemicunya adalah pertumbuhan kelas menengah Indonesia yang tinggi. Secara khusus, kelas menegah yang menjadi bidikan Utomodeck adalah kelompok masyarakat terdidik dan pasangan yang baru menikah. "Nantinya mereka tinggal di luar Jakarta," tutur pria berkacamata ini.

Lebih lanjut, Anthony mengatakan pasar ritel juga menjadi ceruk bidang konstruksi. Secara lebih spesifik, Utomodeck adalah spesialis atap maupun bangunan berbasis metal. Atap adalah mahkota bangunan. Secara fungsional, atap memegang peran besar. "Apa pun yang ada di bawah, kalau atap tidak berfungsi dengan baik, ya, yang di bawah enggak ada nilainya," imbuh Anthony.

Meski sudah berkecimpung lama di pasar proyek, Anthony mengaku, pihaknya masih harus mempersiapkan banyak hal agar pasar ritel yang akan dimasuki benar-benar paham.

Secara rinci, penetrasi di pasar proyek mencapai angka 70 persen dari seluruh produk Utomodeck. Dari jumlah itu, dua kategori pasar proyel yang diambil adalah industrial yakni pabrik dan kilang serta kawasan komersial yaitu mal, bandar udara dan sebagainya.

Satu contoh, papar Anthony, pihaknya melakukan edukasi ihwal atap tanpa sambungan dengan sistem bergerak (mobile system). Atap tanpa sambungan memiliki panjang yang tidak terbatas. Atap ini akan disesuaikan dengan ukuran bangunan. Dengan sistem bergerak, pembuatan dan pemasangan atap langsung dilakukan di lokasi. "Ini seperti memindahkan pabrik ke lokasi proyek. Kami sekaligus membawa mesin pemotongnya," katanya.

Masih menurut Anthony, pihaknya memang sudah mematenkan atap tanpa sambungan berikut mobile system tadi. Dengan cara ini, konsumen mendapat jaminan penghematan mulai
dari bahan baku, pengerjaan berikut risiko-risiko seperti pengangkutan dan pengerjaan.

Atap tanpa sambungan pada September 2014 mendapatkan ganjaran Guinness World Record dan Museum Rekor Indonesia. Saat itu, Utomodeck mencatatkan atap tanpa sambungan sepanjang 200,9 meter sebagai atap sambungan terpanjang di dunia. Atap ini menjadi penutup stok batubara (coal shelter) di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Rembang.

Peluang

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X