Harga Daging Masih Tinggi, Pedagang Bersiap Mogok Jualan

Kompas.com - 07/08/2015, 11:43 WIB
Pedagang daging melayani pembeli di Pasar Senen, Jakarta, Senin (15/6/2015). Jelang Ramadhan, harga beberapa kebutuhan pokok mulai merangkak naik, mulai dari harga cabai, daging ayam dan daging sapi. KOMPAS.com / RODERICK ADRIAN MOZESPedagang daging melayani pembeli di Pasar Senen, Jakarta, Senin (15/6/2015). Jelang Ramadhan, harga beberapa kebutuhan pokok mulai merangkak naik, mulai dari harga cabai, daging ayam dan daging sapi.
EditorErlangga Djumena


JAKARTA, KOMPAS.com —
Sudah seperti ritual tiap tahun bahwa menjelang Lebaran, harga daging sapi mengalami kenaikan. Namun, setelah Lebaran, harga tersebut biasanya akan turun dan kembali normal.

Namun, kondisi tahun ini agak berbeda dari tahun sebelumnya. Dua pekan setelah Lebaran, harga daging sapi masih tinggi. Berdasarkan pantauan Kontan di pasar tradisional di Pasar Minggu, Jakarta, harga daging sapi rata-rata Rp 120.000 per kilogram (kg). Harga ini di atas batas normal Rp 95.000-Rp 100.000 per kg.

Pemicu harga daging sapi yang urung turun ini adalah penurunan pasokan daging sapi dari peternak dan penjual daging sapi yang mulai menurun. Alhasil, stok sapi di pasaran makin menipis dan para pedagang daging sapi mengancam mogok berjualan.

Asnawi, Ketua Umum Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI), membenarkan bahwa ada isu pedagang akan mogok berjualan pada akhir pekan ini. Namun, dia enggan menjelaskan hal itu lebih lanjut karena masih melakukan rapat dengan sejumlah asosiasi pedagang lainnya. "Kami masih rapat dengan asosiasi pedagang lain," ujarnya, Kamis (6/8/2015).

Daru Setiono, pedagang daging sapi di Pasar Kramatjati, Jakarta, mengatakan bahwa dalam beberapa pekan terakhir, kuota daging sapi yang dibeli mulai berkurang. Akibatnya, harga daging tetap tinggi, yakni Rp 115.000-Rp 130.000 per kg, meski Lebaran sudah lewat.

Dia mengatakan, para pedagang adalah pihak yang langsung merasakan kerugian akibat berkurangnya pasokan daging sapi. "Kalau mogok berdagang, itu sudah ramai dibicarakan di sini. Kalau memang harus mogok, ya kami ikut saja," ujarnya.

Menurut dia, akibat berkurangnya pasokan daging, banyak pelanggannya yang mengeluh.

Sarman Simanjorang, Ketua Komite Daging Sapi Jakarta Raya (KDSJR) juga mengatakan, isu mogoknya para pedagang sapi mencuat setelah para pedagang kesulitan mendapatkan bahan baku sapi untuk dijual. "Jadi, para pedagang sebenarnya meminta pemerintah segera mengadakan evaluasi komprehensif sejauh mana ketersediaan pasokan sapi kita," ujar Sarman.

Izin impor sapi bakalan untuk kuartal-III 2015 yang hanya sebesar 50.000 ekor memicu terjadinya kelangkaan di pasar, apalagi hampir sebagian besar sapi yang diimpor pada kuartal-II 2015 sudah dikeluarkan untuk kebutuhan puasa dan Lebaran.

Dengan kelangkaan ini, pedagang sapi kebingungan untuk memasok daging sapi kepada konsumen, khususnya hotel, restoran, dan rumah makan.

Dia pun menuding, pasokan daging sapi ke pasar cenderung ditahan untuk dijual saat Idul Adha karena harga jual akan lebih tinggi. (Adisti Dini Indreswari, Noverius Laoli)

Baca tentang


Sumber
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ke Gilimanuk, Menhub Pantau Kesiapan Antisipasi Arus Balik

Ke Gilimanuk, Menhub Pantau Kesiapan Antisipasi Arus Balik

Whats New
Apa yang Dimaksud dengan Startup?

Apa yang Dimaksud dengan Startup?

Whats New
Apa Saja yang Termasuk UMKM?

Apa Saja yang Termasuk UMKM?

Whats New
[KURASI KOMPASIANA] Screen Time: Positif atau Negatif untuk Anak? | 4 Kiat Hadapi Kecanduan Gawai pada Anak Usia Dini | Jangan Ada Gawai di Antara Kita

[KURASI KOMPASIANA] Screen Time: Positif atau Negatif untuk Anak? | 4 Kiat Hadapi Kecanduan Gawai pada Anak Usia Dini | Jangan Ada Gawai di Antara Kita

Rilis
10 Hal yang Perlu Diketahui Sebelum Membeli Aset Kripto

10 Hal yang Perlu Diketahui Sebelum Membeli Aset Kripto

Spend Smart
Peringati Hari Perawat Sedunia, Waketum Kadin: Jasamu Sungguh Besar

Peringati Hari Perawat Sedunia, Waketum Kadin: Jasamu Sungguh Besar

Whats New
Kontrol Arus Balik Lebaran, Ini Titik Penyekatan dan Rapid Test Antigen Acak

Kontrol Arus Balik Lebaran, Ini Titik Penyekatan dan Rapid Test Antigen Acak

Whats New
[KURASI KOMPASIANA] Cicipi 3 Hidangan Lebaran Anti-Mainstream dari Berbagai Daerah Nusantara

[KURASI KOMPASIANA] Cicipi 3 Hidangan Lebaran Anti-Mainstream dari Berbagai Daerah Nusantara

Rilis
Larangan Mudik Lebaran, Staycation Sepi Peminat

Larangan Mudik Lebaran, Staycation Sepi Peminat

Whats New
Meski Ada Larangan Mudik, Pemerintah Targetkan Pertumbuhan Ekonomi Tembus 7 Persen di Kuartal II-2021

Meski Ada Larangan Mudik, Pemerintah Targetkan Pertumbuhan Ekonomi Tembus 7 Persen di Kuartal II-2021

Whats New
Buruh Sindir Pemerintah Soal Masuknya TKA saat Lebaran: Hilang Kegarangan Para Pejabat

Buruh Sindir Pemerintah Soal Masuknya TKA saat Lebaran: Hilang Kegarangan Para Pejabat

Rilis
Bantu Peternak Layer di Blitar dan Kendal, Kementan Fasilitasi Biaya Distribusi Jagung

Bantu Peternak Layer di Blitar dan Kendal, Kementan Fasilitasi Biaya Distribusi Jagung

Rilis
Antisipasi Lonjakan Kasus Covid-19, Pemudik di 2 Pelabuhan ini Wajib Rapid Test Antigen

Antisipasi Lonjakan Kasus Covid-19, Pemudik di 2 Pelabuhan ini Wajib Rapid Test Antigen

Whats New
[POPULER DI KOMPASIANA] Tren Hampers Lebaran | Resep Opor Ayam dan Rendang Daging Sapi | Hidangan Kue Lebaran

[POPULER DI KOMPASIANA] Tren Hampers Lebaran | Resep Opor Ayam dan Rendang Daging Sapi | Hidangan Kue Lebaran

Rilis
Jakarta Dinobatkan Kota Paling Terdampak Bahaya Lingkungan, Ini Saran Susi Pudjiastuti

Jakarta Dinobatkan Kota Paling Terdampak Bahaya Lingkungan, Ini Saran Susi Pudjiastuti

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X