Enam Badan Usaha Teken PKS B15 dengan Pertamina dan AKR

Kompas.com - 18/08/2015, 14:33 WIB
Bus biodiesel yang digunakan sebagai transportasi umum bagi para peserta dan delegasi APEC 2013 di Bali diluncurkan pengunaannya di Nusa Dua, Bali, Jumat (4/10/2013). Bus berbahan bakar minyak nabati ini diklaim ramah lingkungan. KOMPAS / HERU SRI KUMOROBus biodiesel yang digunakan sebagai transportasi umum bagi para peserta dan delegasi APEC 2013 di Bali diluncurkan pengunaannya di Nusa Dua, Bali, Jumat (4/10/2013). Bus berbahan bakar minyak nabati ini diklaim ramah lingkungan.
|
EditorJosephus Primus

JAKARTA, KOMPAS.com - Sebanyak enam Badan Usaha produsen Bahan Bakar Nabati (BBN) melakukan penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS) biodiesel campuran nabati 15 persen (B15) dengan Badan Usaha Penyalur Jenis Bahan Bakar Tertentu (JBT). Keenam Badan Usaha BBN tersebut yakni PT Wilmar Bio Energi, PT Wilmar Nabati, PT Eterindo Wahanatama, PT Musim Mas, PT Pelita Agung, dan PT Darmex. Sementara itu, dua Badan Usaha Penyalur JBT yakni PT Pertamina (Persero) dan PT AKR Corporindo.

Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Bayu Krishnamurti menuturkan, ada sebanyak 339.000 kiloliter (KL) biodiesel dalam kerja sama sebulan terakhir . "Dari 1 September sampai dengan akhir Desember akan ada kontrak sebanyak 426.000 KL. Sehingga sampai akhir tahun akan dapat diserap biodiesel sebanyak 765.000 KL," kata Bayu dalam penandatangan yang berlangsung di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Selasa (18/8/2016).

Diperkirakan kebutuhan dana untuk subsidi sebanyak 765.000 KL tersebut mencapai Rp 2 triliun. Sementara ini, dana pungutan yang terkumpul di kas BLU tersebut mencapai Rp 750 miliar.

Menurut Bayu, mandatory atau kewajiban B15 mampu menghemat impor solar sekitar 1,5 juta KL per tahun. Akan tetapi, ada dua risiko yang menghadang penerapan B15. Pertama, produsen CPO (salah satu bahan baku BBN) kini lebih banyak menjual produk hilir. Hal ini, kata Bayu bagus dari sisi industrialisasi namun pungutan CPO fund juga berpeluang turun. Kedua, harga minyak mentah dunia (crude) yang terus turun menyebabkan gap atau selisih antara BBM dan BBN menjadi tinggi.

Akibatnya, subsidi yang dibutuhkan untuk menutup selisih tersebut berpeluang membengkak. "Saat ini per liter B15, subsidi yang diberikan adalah Rp 2.600, dengan asumsi rata-rata MOPS sebulan terakhir dan kurs sebulan terakhir," jelas Bayu.

Ditemui usai penandatanganan, Direktur Pemasaran Ahmad Bambang mengatakan, Pertamina berkomitmen mencapai 15 persen campuran nabati dalam solar. Saat ini penyaluran solar mencapai 80.000 KL.

Sementara itu, Direktur Keuangan AKR Corporindo Mery Sofi juga mengatakan pihaknya mampu menyerap 15 persen BBN yang tersedia. Saat ini penyaluran solar AKR mencapai 200.000 KL per hari, baik subsidi maupun non-subsidi.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X