Harga Daging Ayam Melonjak, Pengusaha Unggas Mengaku "Kecele" Berkali-Kali

Kompas.com - 21/08/2015, 10:01 WIB
Pedagang menimbang daging ayam di Pasar Senen, Jakarta, Senin (15/6/2015). Jelang Ramadhan, harga beberapa kebutuhan pokok mulai merangkak naik, mulai dari harga cabai, daging ayam dan daging sapi. KOMPAS.com / RODERICK ADRIAN MOZESPedagang menimbang daging ayam di Pasar Senen, Jakarta, Senin (15/6/2015). Jelang Ramadhan, harga beberapa kebutuhan pokok mulai merangkak naik, mulai dari harga cabai, daging ayam dan daging sapi.
Penulis Yoga Sukmana
|
EditorErlangga Djumena
JAKARTA, KOMPAS.com -  Pengusaha rumah potong ayam mengaku "kecele" atau tak menduga terjadi situsi yang tak normal sehingga menyebabkan harga daging ayam menjadi melonjak. Bahkan, "kecelenya" penguasa rumah potong ayam tak hanya terjadi sekali, tetapi berkali-kali.

"Bisa dikatakan tahun ini adalah tahun anomali untuk unggas. Beberapa tahun yang lalu, Harga Pokok Penjualan (HPP) ayam selalu di bawah  peternak. Tahun ini, kita kecele atau apa itu terkecoh (harganya melonjak). Kami tidak mengira. Padahal, pemotongan ayam kita ada cold storage untuk buffer stock. Begitu dibutuhkan, kita habiskan stok di sana. Dengan harapan, harga stabil," ujar Ketua Asosiasi Rumah Potong Hewan Unggas Indonesia Achmad Dawami di Kantor Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Kamis (20/8/2015).

Setelah itu lanjut dia, pengusaha rumah potong ayam kembali "kecele" lantaran tak menduga permintaan ayam naik drastis seiring melonjaknya harga daging sapi. Akibat kenaikan harga daging sapi, beberapa pedagang makanan yang bahan utamanya daging sapi, beralih menggunakan daging ayam.

"Yang kedua, ada kaitannya dengan daging sapi. Rabu lalu, saya ketemu sama Apmiso (Asosiasi Pedagang Mi dan Bakso). Mereka katakan ada 3 juta pedagang bakso di seluruh Indonesia. Kalau mereka jual 50 butir per hari saja, merek butuhkan 1.500 ton daging per hari. Sekarang yang pindah dan 50 persen (daging sapi itu) dicampur dengan daging ayam. Kecuali bakso-bakso level high class ya," kata dia.

Tak cuma di situ, pengusaha rumah potong ayam harus "kecele" untuk ketiga kalinya lantaran adanya libur panjang saat Lebaran dan long weekend tanggal 15, 16, dan 17 Agustus 2015. Lantaran libur panjang, peternak tak melakukan pemeliharaan ayam (chick in) sehingga dampaknya terasa saat ini yaitu berkurangnya pasokan ayam ke pedagang.

"Ini ada tambahan konsumsi yang enggak diduga. Tapi utamanya yang disampaikan Pak Menteri Pertanian Amran Sulaiman yaitu tanggal 13-20 Juli 2015 anak ayam yang ada di Indonesia tidak lebih dari 50 persen. Karena semua pegawai perusahaan ayam saat itu libur semua. Anak ayam bisa dipotong dalam rentan 28 sampai 30 hari," ucap dia.

Meski begitu, dia meyakini bahwa stok ayam masih aman dan diperkirakan dalam waktu dekat harga daging ayam akan kembali normal di bawah Rp 40.000.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X