Ketua Satgas: KA Barang CDP Beroperasi, "Dwell Time" Bisa 2,5 hari

Kompas.com - 03/09/2015, 14:23 WIB
Ilustrasi: Beberapa kontainer parkir di Jalan RE Martadinata, Jakarta Utara, Senin (5/5/2014). KOMPAS.com/Abba GabrillinIlustrasi: Beberapa kontainer parkir di Jalan RE Martadinata, Jakarta Utara, Senin (5/5/2014).
EditorErlangga Djumena
CIKARANG, KOMPAS.com - Satuan Tugas Percepatan Dwell Time (waktu bongkar muat di pelabuhan) optimistis menurunkan waktu inap barang di pelabuhan pada akhir tahun ini.

"Surat Keputusannya sudah ditandatangani dan saya ditunjuk sebagai ketua, dan ditargetkan sampai akhir tahun ini," kata Kepala Satgas Agung Kuswandono saat ditemui di sela-sela diskusi Jalur Angkutan Kereta Api Barang dari Cikarang Dry Port menuju Pelabuhan Tanjung Priok di Cikarang, Kamis (3/9/2015).

Agung mengatakan, salah satu upaya memangkas dwell time, yakni dengan mengoperasikan KA barang dari Cikarang Dry Port (CDP) ke Pelabuhan Tanjung Priok.

"Apalagi kalau KA diberikan izin langsung masuk ke dermaga, otomatis banyak kontainer yang masuk ke CDP, sehingga dwell time akan turun," katanya.

Dia mengatakan, apabila KA barang tersebut sudah beroperasi, pihaknya optimistis dwell time akan turun hingga ke angka 2,5 hari yang saat ini masih terganjal lima hari.

Menurut dia, dengan dioperasikannya KA barang yang menghubungkan dua pelabuhan tersebut, CDP bisa berkembang padahal sudah ada sejak 2007.

"Sebetulnya, kalau turunnya (dwelli time) gampang, kalau keretanya sudah diberesi. Tapi, masalah krusialnya CDP ini sudah dibangun pada 2007, ternyata dengan Pelindo II tidak terjadi hubungan yang baik," katanya.

Agung mengatakan, proyek KA barang tersebut ditargetkan selesai dalam waktu enam bulan, jadi diharapkan masyarakat di sekitar Jababeka bisa beralih ke CDP.

Terkait akan dibangun juga kanal Cikarang Bekasi Laut pada November mendatang oleh PT Pelabuhan Indonesia II dia menilai kereta masih menjadi pilihan masyarakat karena dinilai lebih cepat.  "Kita pilih yang cepat dan realistis," katanya.

Ia menegaskan, pihaknya tidak memasukan operator, dalam hal ini PT Pelindo II, ke dalam satgas untuk menjamin independensi.

"Ternyata kontainer yang menumpuk di Priok itu jadi sumber pendapatannya, jadi mereka tidak senang kalau ada kereta, pendapatanya jadi ke CDP. Mau pendek atau panjang (dwelli time) yang diprioritaskan bagi mereka hanya bisnis," katanya.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli sebelumnya membentuk satuan tugas (task force) untuk mempercepat dwell time di Pelabuhan Tanjung Priok.

Rizal menambahkan, pihaknya tidak akan menyerahkan otoritas pelabuhan kepada operator, lantaran dikhawatirkan ada konflik kepentingan.



Sumber Antara
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X