Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Paket Ekonomi Jilid II Dikebut, Harga Premium Bakal Turun?

Kompas.com - 18/09/2015, 11:18 WIB
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com - Belum juga tuntas membahas paket ekonomi tahap I, kini tim ekonomi kabinet Joko Widodo menyusun paket ekonomi jilid II. Targetnya, paket ekonomi tahap II meluncur Oktober.

Pemerintah membuat perbedaan antara paket I dan paket II. Paket ekonomi seri I berisi deregulasi dan debirokratisasi. Tujuannya adalah memulihkan industri dan pasar dalam negeri. Sementara paket jilid II lebih mengarah pada peningkatan daya beli masyarakat, pemberian insentif perpajakan, dan reformasi anggaran.

"Stimulus fiskal diarahkan melalui percepatan penyerapan anggaran yang tepat sasaran, meningkatkan daya beli dan insentif bagi dunia usaha," tandas Bambang Brodjonegoro, Menteri Keuangan, Kamis (17/9/2015).

Nah, menurut sumber Kontan yang tahu rencana ini, ada dua poin yang digagas masuk paket tahap II, khususnya terkait peningkatan daya beli masyarakat. Pertama, menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) premium dan solar. Kedua, pemberian insentif pajak pribadi dan perusahaan. Harapannya, jika pajak dikurangi dan harga BBM diturunkan, daya beli masyarakat lebih menggeliat.

Masih menurut sumber tadi, perumusan paket jilid II lebih alot, utamanya seputar pemberian insentif pajak. Kementerian Keuangan tak ingin jorjoran memberi insentif pajak karena bisa makin sulit memenuhi target setoran pajak. "Di sisi lain relaksasi ini perlu agar dunia usaha menggeliat," kata sumber.

Secara umum, pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Ade Sudrajat, menyangsikan aneka paket ekonomi itu. Dia melihat, isi paket ekonomi amat ditentukan oleh bisikan kalangan dekat pemerintah. "Jika masukannya salah, pemerintah bisa masuk angin," kata Ade.

Di sisi lain, niat penyusunan paket ekonomi jilid II ini menunjukkan pemerintah tak fokus bekerja. Ada 134 aturan yang akan dirombak lewat deregulasi.

Dan, menurut Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani, belum satu pun deregulasi keluar. Dus, dia menyarankan, sebaiknya pemerintah menuntaskan dulu paket ekonomi jilid I. Jika mulai tampak hasilnya, barulah pemerintah menyusun paket jilid II. Satu hal lagi, sejumlah agenda deregulasi pada paket tahap I juga memicu ketakutan baru bagi pengusaha.

Pabrikan besi dan baja dalam negeri, misalnya, khawatir niat menghapus hambatan impor baja dan besi akan memukul industri besi dan baja dalam negeri. "Produsen lokal akan kelabakan," kata Direktur Eksekutif Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Hidayat Trisaputro. (Adinda Ade Mustami, Asep Munazat Zatnika, Handoyo, Muhammad Yazid)

baca juga: Ekonom: Paket Kebijakan Kurang "Nendang"

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Sumber
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+