Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 28/09/2015, 16:46 WIB
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com - Jika hampir semua komoditas unggulan ekspor Indonesia terpukul perlambatan ekonomi global, kopi nampaknya pengecualian.

Ekspor kopi Indonesia justru semakin harum tahun ini. Bahkan, ekspor diperkirakan masih bisa tumbuh hingga dua digit. Ini tercermin dari target Gabungan Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (GAEKI). 

GAEKI optimis volume ekspor biji kopi kita bisa di atas 400.000 ton, tumbuh 10 persen dibanding tahun lalu yang 385.000 ton. Bahkan, jika ditambah kopi olahan, volume ekspor tahun ini diperkirakan bakal lebih besar lagi.

Sebagai perbandingan, GAEKI mencatat volume ekspor kopi secara keseluruhan sebanyak 475.000 ton dengan nilai 1,3 miliar dollar AS tahun lalu. Ekspor tersebut mencakup biji kopi 385.000 ton dan kopi olahan 90.000 ton.

Moenardji Soedargo, Dewan Penasehat Gaeki menyebut ekspor kopi tahun ini bisa lebih baik ketimbang tahun lalu karena faktor cuaca yang mendukung. El nino yang menyebabkan kemarau panjang membuat produksi kopi tahun ini lebih baik,  ketimbang cuaca tahun lalu yang memiliki curah hujan cukup tinggi hampir sepanjang tahun,

Tahun lalu, volume ekspor kopi menurun hingga 25 persen-30 persen dari tahun 2013 akibat daerah penghasil kopi sering dilanda hujan. Meski begitu, mereka juga khawatir bila kemarau panjang berlanjut. "Jika El Nino benar-benar menguat sampai akhir tahun, itu baru mengganggu potensi panen tahun depan," ujarnya kepada Kontan, Minggu (27/9/2015).

Sayang, Moenardji mengaku belum menghitung realisasi ekspor kopi sampai dengan paruh pertama tahun ini.

Namun, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor kopi selama semester I-2015 mencapai 579.99 juta dollar AS, naik dari bulan sebelumnya yakni Mei yang 91,16 juta dollar AS.

Meski begitu, dia bilang selain harus menggenjot produksi, eksportir kopi harus menyiasati tren harga kopi yang menurun di pasar global. Memang depresiasi mata uang rupiah  terhadap dollar Amerika Serikat (AS) menjadi momen tepat untuk ekspor.

"Hanya Brasil mengambil kesempatan dengan cara membanting harga terlalu keras. Hal ini membuat kopi Indonesia kalah saing " jelas Moenardji.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Sumber
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+