Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dosen ITB: 60 Persen Konsumen Bakal Berpindah ke Kereta Api Cepat

Kompas.com - 03/10/2015, 19:19 WIB
Penulis Icha Rastika
|
EditorHeru Margianto
JAKARTA, KOMPAS.com - Pengamat infrastruktur Institut Teknologi Bandung Harun Al Rasyid Lubis menilai bahwa proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung menarik minat masyarakat.

Berdasarkan survei yang pernah dilakukannya, kurang lebih 40 persen hingga 60 persen pengguna moda transportasi Jakarta-Bandung kemungkinan besar akan berpindah menggunakan kereta api cepat jika proyek itu terealisasi.

"Kita ketemu angkanya luar biasa, yakni 40 persen sampai 60 persen (akan berpindah) secara range termasuk yang lewat jalan tol, karena mungkin mereka merasa sangat sering Jakarta-Bandung, itu luar biasa. Apalagi kalau sudah sampai Cawang, mereka juga menjawab 40 sampai 60 prsen pasti atau kemungkinan besar pindah," papar Harun dalam diskusi yang digelar Smart FM di Jakarta, Sabtu (3/10/2015).

Menurut dia, kemungkinan berpindahnya konsumen menggunakan kereta api cepat semakin besar jika pelayanan kereta api cepat bisa menjangkau pusat kota. Misalnya saja menghubungkan kawasan Gambir di Jakarta dengan kawasan Gede Bage di Bandung.

Namun, lanjut Harun, masih ada masalah kemacetan yang belum berhasil terurai sehingga kecepatan akses kereta cepat terkesan percuma. Atas dasar itu, Harun menilai, persiapan yang matang perlu disusun.  

Diakui Harun, proyek kereta api cepat Jakarta-Surabaya lebih menguntungkan untuk dibangun dibandingkan Jakarta-Bandung. Namun, menurut dia, persentase penumpang yang bakal berpindah menggunakan moda kereta api cepat bisa naik 25 persen jika jalurnya dibuat melewati Bandung.

"Betul targetnya sampai Surabaya, tetapi kalau lewat Bandung bisa dongkrak (penumpang) 25 persen lagi," ucap dia.

Ia juga mengingatkan bahwa proyek kereta api cepat tidak mungkin bisa terealisasi jika hanya mengandalkan pihak swasta. Harun mencontohkan proyek pembangunan monorel yang mangkrak.

"Lihat saja kan ada tiang-tiang berjamur di dalam kota. Monorel itu enggak jadi. Kalau ke luar kota kan lebih berat. Pemerintah sudah putuskan tidak akan libatkan APBN, tetapi saya enggak tahu kalau APBD bagaimana karena enggak mungkin proyek kereta api cepat ini stand alone (berdiri sendiri)" tutur Harun.

Sebelumnya pemerintah memutuskan bahwa proyek kereta cepat tidak menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Negada (APBN). Tidak ada jaminan yang harus dikeluarkan pemerintah dalam proyek ini.

Kerjasama yang dibangun dengan investor pun diarahkan pada kerjasama bisnis atau business to business. Pemerintah pun menyerahkan proyek ini kepada China.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kreditur Minta Pengadilan Nyatakan Garuda Indonesia Pailit

Kreditur Minta Pengadilan Nyatakan Garuda Indonesia Pailit

Whats New
Investor Asing Kembali Catat Net Buy, Saham Perbankan Masih Paling Diminati

Investor Asing Kembali Catat Net Buy, Saham Perbankan Masih Paling Diminati

Earn Smart
IHSG Berpotensi Tertekan, Cermati Saham-saham Berikut Ini

IHSG Berpotensi Tertekan, Cermati Saham-saham Berikut Ini

Earn Smart
Sengkarut Asuransi Bermasalah Bikin Presiden Jokowi 'Gerah', Bagaimana Penanganannya hingga Saat Ini?

Sengkarut Asuransi Bermasalah Bikin Presiden Jokowi "Gerah", Bagaimana Penanganannya hingga Saat Ini?

Whats New
[POPULER MONEY] Beli Minyakita Maksimal 10 Liter, Harus Pakai KTP | Uji Coba Beli Elpiji 3 Kg Pakai KTP akan Diperluas

[POPULER MONEY] Beli Minyakita Maksimal 10 Liter, Harus Pakai KTP | Uji Coba Beli Elpiji 3 Kg Pakai KTP akan Diperluas

Whats New
Mengenal 9 Manfaat Perdagangan Internasional bagi Perekonomian Negara

Mengenal 9 Manfaat Perdagangan Internasional bagi Perekonomian Negara

Earn Smart
Cara Cek Pajak Kendaraan dengan Mudah, Bisa lewat HP

Cara Cek Pajak Kendaraan dengan Mudah, Bisa lewat HP

Spend Smart
Harga BBM Nonsubsidi Berubah Berkala, Masyarakat Perlu Edukasi agar Terbiasa

Harga BBM Nonsubsidi Berubah Berkala, Masyarakat Perlu Edukasi agar Terbiasa

Whats New
Kemenaker: BUMN Bisa Jadi Aktor Penting Terwujudnya Indonesia Emas di 2045

Kemenaker: BUMN Bisa Jadi Aktor Penting Terwujudnya Indonesia Emas di 2045

Rilis
Tumbuh 700 Persen, IBK Indonesia Catatkan Laba Bersih Rp 104 Miliar

Tumbuh 700 Persen, IBK Indonesia Catatkan Laba Bersih Rp 104 Miliar

Whats New
Mayora Group Bangun Pabrik Daur Ulang Plastik Berteknologi 'Food Grade' di Jombang

Mayora Group Bangun Pabrik Daur Ulang Plastik Berteknologi "Food Grade" di Jombang

Whats New
BRI Danareksa Sekuritas Bidik Jumlah Transaksi Bisnis Ritel Brokerage Tumbuh 48 Persen di 2023

BRI Danareksa Sekuritas Bidik Jumlah Transaksi Bisnis Ritel Brokerage Tumbuh 48 Persen di 2023

Whats New
Daftar 4 Bank dengan Aset Terbesar di Indonesia

Daftar 4 Bank dengan Aset Terbesar di Indonesia

Whats New
Berkat Dana Desa, Kemenkeu Sebut Jumlah Desa Tertinggal Turun Jadi 9.221

Berkat Dana Desa, Kemenkeu Sebut Jumlah Desa Tertinggal Turun Jadi 9.221

Whats New
Masuk Tahap Akhir, 99 Persen Nasabah Setuju Restrukturisasi Polis Jiwasraya

Masuk Tahap Akhir, 99 Persen Nasabah Setuju Restrukturisasi Polis Jiwasraya

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+