Kompas.com - 09/11/2015, 15:05 WIB
EditorErlangga Djumena

APEC

Yang lebih luas dan lebih dahulu proses pembahasannya adalah Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC). Indonesia sudah bergabung dengan APEC sejak 1989.

Anggota APEC terdiri atas 12 negara pendiri, yaitu AS, Australia, Brunei, Filipina, Indonesia, Jepang, Kanada, Korea Selatan, Malaysia, Selandia Baru, Singapura, dan Thailand, lalu menyusul Tiongkok, Hongkong, Taiwan, Meksiko, Papua Niugini, Cile, Peru, Rusia, dan Vietnam.

Ada tujuh negara ASEAN yang tergabung dalam APEC dan 12 negara RCEP yang juga anggota APEC. Semua ekonomi besar di wilayah ini bergabung dalam APEC, seperti AS, Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, dan bahkan Rusia.

Dari komposisi ini saja sebetulnya sudah dapat dilihat, APEC memiliki kepentingan strategis yang lebih besar bagi Indonesia. Sebab, tanpa bergabung dengan TPP saja Indonesia sudah dapat melakukan perdagangan dengan negara-negara ekonomi kuat.

Dalam sejarahnya, Indonesia berperan besar dalam APEC. Pada 1994, sewaktu Indonesia menjadi tuan rumah, berhasil dirumuskan Deklarasi Bogor.

Ini momentum penting karena menjadi kesepakatan pertama APEC untuk melakukan perdagangan dan investasi bebas dan terbuka di kawasan Asia Pasifik dengan sasaran pada 2010 bagi negara-negara maju dan 2020 untuk ekonomi berkembang.

Kesimpulan

Dari berbagai uraian di atas, jelaslah bahwa arah mewujudkan perdagangan bebas dunia untuk meningkatkan daya saing, lapangan kerja, dan peluang usaha sudah sejak lama kita yakini.

Kita tidak perlu diajari lagi bahwa perdagangan bebas akan memperluas pasar dan meningkatkan efisiensi karena itu semua kita sudah tahu.

Yang utama harus dipertimbangkan adalah urgensi dan prioritasnya. Jelas perhatian harus kita berikan kepada yang telah kita sepakati dan akan segera jalankan, yaitu MEA.

Kita masih harus bekerja keras agar MEA dapat betul-betul membawa keuntungan ekonomi dan kesejahteraan kepada masyarakat.

Itu hanya dapat diraih melalui kekuatan daya saing yang diperoleh dari peningkatan produktivitas, kreativitas, dan inovasi.

Kita juga harus menyegerakan proses ke arah kesepakatan regional dan multilateral yang sudah kita jalani selama ini, yakni kerja sama ASEAN dengan negara-negara mitranya dan dalam APEC.

Memang negosiasinya tidak mudah karena harus menampung semua kepentingan, dari negara yang paling maju sampai yang paling terbelakang. Akan tetapi, di situlah letak kekuatan dan keindahannya.

Dengan bergabung dalam berbagai kerja sama tersebut, ekonomi kita sudah cukup terbuka lebar dan pasar terbuka luas.

Tidak perlu kita menambah-nambah lagi dengan TPP, tanpa keuntungan yang jelas, bahkan mengandung risiko kerugian yang tinggi.

Ginandjar Kartasasmita
Mantan Menteri Koordinator Ekonomi, Keuangan, dan Industri

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 9 November 2015, di halaman 6 dengan judul "TPP, Perlukah Kita Bergabung?".

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.