Tekan Kesenjangan, Menteri Marwan Berkomitmen Percepat Pembangunan di Perbatasan

Kompas.com - 20/11/2015, 20:06 WIB
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Marwan Jafar saat menjadi narasumber dalam seminar nasional dengan tema Membangun Indonesia dari Pinggiran di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara pada Senin (16/11/2015). Kementerian DesaMenteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Marwan Jafar saat menjadi narasumber dalam seminar nasional dengan tema Membangun Indonesia dari Pinggiran di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara pada Senin (16/11/2015).
EditorJosephus Primus

KOMPAS.com — Pembangunan perbatasan harus dimulai dengan meletakkan dasar-dasar kebijakan desentralisasi asimetris dengan menjalankan kebijakan yang berpihak (affirmative policy) pada daerah-daerah yang saat ini masih tertinggal.

Hal tersebut dikatakan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Marwan Jafar saat menjadi narasumber dalam seminar nasional dengan tema "Membangun Indonesia dari Pinggiran" di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, pada Senin (16/11/2015).

Menurut Marwan, kawasan perbatasan, pulau-pulau terluar, desa tertinggal, dan terpencil membutuhkan perhatian dan kebijakan khusus dari pemerintah. "Pemerintah akan melakukan intervensi pada daerah-daerah yang kapasitas pemerintahannya belum cukup memadai dalam memberikan pelayanan publik. Hal ini dilakukan dalam rangka menekan angka kesenjangan," paparnya.

Secara lebih rinci, Marwan menjelaskan kondisi pembangunan perbatasan yang secara umum masih sangat jauh dari kesejahteraan. Hal itu mulai dari permukaan jalan desa di kawasan perbatasan, rasio elektrifikasi di desa-desa perbatasan, hingga banyaknya desa di perbatasan yang masih belum memiliki akses air bersih.

"Persentase jalan desa dengan jenis permukaan jalan yang terluas yang belum teraspal mencapai 56,71 persen, rasio elektrifikasi desa-desa di kawasan perbatasan hanya 86,37 persen jauh dari elektrifikasi nasional. Dari 1.730 desa di wilayah perbatasan, 26 persen desa masih belum terjangkau sinyal telepon dan 33 persen masih memiliki kondisi sinyal yang lemah," imbuhnya.

Fakta yang demikian, menurut Marwan, mengharuskan adanya upaya dan strategi visioner dan tepat dalam percepatan pembangunan daerah-daerah pinggiran, salah satunya di kawasan perbatasan.

Oleh karena itu, pembangunan kawasan perbatasan mesti fokus pada isu pengurangan kemiskinan dan ketimpangan, tidak hanya dalam lingkup nasional, tetapi juga antarnegara tetangga yang berbatasan langsung dengan wilayah atau desa perbatasan. "Karena perbatasan negara harus benar-benar kita jadikan beranda dan wilayah terdepan dari NKRI, jangan sampai kita kalah dengan negara tetangga dalam merawat wilayah perbatasan," tambahnya.

Di akhir sambutannya, Marwan memuji kinerja Pemerintah Kabupaten Malinau, salah satu kabupaten tertinggal yang telah terentaskan dan merupakan daerah yang berada di kawasan perbatasan. "Sebagai salah satu daerah yang berada di kawasan perbatasan, Kabupaten Malinau merupakan salah satu daerah yang harus diprioritaskan pembangunannya," demikian Marwan Jafar.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.