Penguasaan Asing di "E-Commerce" Perlu Dibatasi

Kompas.com - 23/11/2015, 12:51 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
EditorBambang Priyo Jatmiko
JAKARTA, KOMPAS.com - Pemodal asing tidak bisa leluasa lagi bermain di bisnis online atau e-commerce. Pemerintah akan membatasi kepemilikan pemodal asing di e-commerce.

Niat tersebut akan dituangkan dalam revisi peraturan Daftar Negatif Investasi (DNI) yang akan segera digodok.

Srie Agustina, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemdag) menyatakan, pengaturan investasi asing ini juga berlaku pada bisnis tempat jual beli barang dan jasa via online.

Dia menambahkan, pembatasan asing di e-commerce ini bertujuan memperkuat bisnis online lokal. "Tahap awal, asing hanya boleh memiliki saham minoritas di e-commerce dan marketplace," kata Srie sebagaimana dikutip dari Kontan, Senin (23/11/2015).

Sebagai gambaran, potret e-commerce di Indonesia memang menggiurkan. Merujuk data Insideretail, penjualan bisnis online di Indonesia tahun ini diprediksikan mencapai 3,56 miliar dollar AS atau sekitar Rp 49 triliun.

Tahun depan, omzet bisnis ini diprediksikan naik 26 persen menjadi 4,49 miliar dollar AS. Nah, sejumlah skema porsi pembatasan asing ini mulai disusun. Misalnya, asing akan di batasi maksimal memiliki 30 persen-40 persen saham e-commerce di Indonesia dan selebihnya dikuasai pemodal lokal.

Namun untuk sementara ini, aturan ini tak berlaku surut. Alhasil, asing yang telanjur memiliki lebih dari batas maksimal itu, tak wajib melepaskan sebagian kepemilikannya ke pengusaha lokal.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pemerintah berharap, dengan komposisi ini pebisnis online domestik bisa memanfaatkannya untuk bekerjasama dengan pemain global dan mengembangkan jaringannya ke pasar dunia. Di sisi lain, pembatasan ini menahan dominasi asing di e-commerce.

Bambang Heru Tjahjono, Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika, menambahkan, investor asing juga hanya boleh masuk pada perusahaan e-commerce atau marketplace yang mapan.

Jadi, pebisnis asing haram masuk ke pebisnis online pemula atau baru tahap perintis (start up). Sebab, selama ini investor asing lebih suka mencaplok perusahaan perintis dengan harga murah. Syarat lain, investor asing wajib berbentuk badan hukum Indonesia atau mendirikan perseroan terbatas (PT). Syarat ini berkaitan dengan perlindungan konsumen.

Lany Rahayu, Marketing Communications Manager PT Global Digital Niaga, pengelola Blibli.com menilai positif rencana ini. Sedangkan Gaery Undarsa, Managing Director PT Global Tiket Network, pengelola tiket.com berharap jangan sampai aturan menguntungkan investor global. Sebab, bisnis ini memberi kontribusi signifikan bagi pertumbuhan ekonomi. (Nina Dwiantika)

Baca tentang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Lelang Aset Asabri dan Jiwasraya, DJKN: Target Dapat Hasil Setinggi-tingginya

Lelang Aset Asabri dan Jiwasraya, DJKN: Target Dapat Hasil Setinggi-tingginya

Whats New
Kemenhub Mediasi Penyelesaian Santunan Pelaut RI yang Meninggal di Singapura

Kemenhub Mediasi Penyelesaian Santunan Pelaut RI yang Meninggal di Singapura

Whats New
Kapan Moge dan Brompton Selundupan Mantan Dirut Garuda Dilelang? Ini Kata DJKN

Kapan Moge dan Brompton Selundupan Mantan Dirut Garuda Dilelang? Ini Kata DJKN

Whats New
[TREN TEKNOLOGI KOMPASIANA] Perawatan Spooring dan Balancing | Masyarakat Jepang Ogah Gunakan Kendaraan Pribadi

[TREN TEKNOLOGI KOMPASIANA] Perawatan Spooring dan Balancing | Masyarakat Jepang Ogah Gunakan Kendaraan Pribadi

Rilis
IHSG Anjlok 1 Persen di Akhir Pekan, Rupiah Ikut Melemah

IHSG Anjlok 1 Persen di Akhir Pekan, Rupiah Ikut Melemah

Whats New
Saham Unilever Indonesia Anjlok 30,95 Persen sejak Awal Tahun, Ini Pemicunya

Saham Unilever Indonesia Anjlok 30,95 Persen sejak Awal Tahun, Ini Pemicunya

Whats New
Banyak Penipuan Lelang, Ini Ciri-cirinya

Banyak Penipuan Lelang, Ini Ciri-cirinya

Whats New
Mau Jadi Pemenang Lelang di Lelang.go.id? Ini Tips Kemenkeu

Mau Jadi Pemenang Lelang di Lelang.go.id? Ini Tips Kemenkeu

Spend Smart
Minat Work From Bali? Ini 4 Hal yang Perlu Dipersiapkan

Minat Work From Bali? Ini 4 Hal yang Perlu Dipersiapkan

Whats New
Buktikan Kepedulian akan Pasien Covid-19, “Pengusaha Peduli NKRI” Gelar Donor Plasma Konvalesen

Buktikan Kepedulian akan Pasien Covid-19, “Pengusaha Peduli NKRI” Gelar Donor Plasma Konvalesen

Rilis
Pelindo II Tindak Tegas 12 Pelaku Pungli di Pelabuhan Tanjung Priok

Pelindo II Tindak Tegas 12 Pelaku Pungli di Pelabuhan Tanjung Priok

Whats New
Masih Terbebani The Fed, Harga Bitcoin Lanjutkan Penurunan

Masih Terbebani The Fed, Harga Bitcoin Lanjutkan Penurunan

Whats New
[TREN EDUKASI KOMPASIANA] Tabel Periodik dengan Jembatan Keledai | Vibranium pada Tabel Periodik

[TREN EDUKASI KOMPASIANA] Tabel Periodik dengan Jembatan Keledai | Vibranium pada Tabel Periodik

Rilis
Cerita Kara Nugroho, Bangun Bisnis PVRA hingga Ikut London Fashion Scout

Cerita Kara Nugroho, Bangun Bisnis PVRA hingga Ikut London Fashion Scout

Smartpreneur
Mengenal Perbedaan dari Pasar Monopoli dengan Oligopoli

Mengenal Perbedaan dari Pasar Monopoli dengan Oligopoli

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X