Kompas.com - 02/12/2015, 08:17 WIB
Tambang terbuka PT Freeport Indonesia, di Grasberg, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika merupakan tambang terbuka terbesar di dunia. Dalam operasinya  PT Freeport Indonesia mengoperasikan puluhan haul truk untuk mengangkut material tambang dengan kapasitas angkut 240 ton hingga 320 ton. Alfian KartonoTambang terbuka PT Freeport Indonesia, di Grasberg, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika merupakan tambang terbuka terbesar di dunia. Dalam operasinya PT Freeport Indonesia mengoperasikan puluhan haul truk untuk mengangkut material tambang dengan kapasitas angkut 240 ton hingga 320 ton.
Penulis Yoga Sukmana
|
EditorErlangga Djumena
JAKARTA, KOMPAS.com — Mencuatnya isu pencatutan nama Presiden Jokowi dan Wakil Presiden ke permukaan tak hanya membuka bobrok mentalitas elite politik dan permainan lihai pengusaha nakal.

Secara tak langsung, isu pencatutan juga membuka tabiat-tabiat perusahaan tambang asing di Indonesia.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said mengungkapkan tabiat perusahaan asing di hadapan Komisi VII DPR RI, Selasa (1/12/2015).

Tabiat yang diungkap Sudirman bahwa perusahaan-perusahaan asing, dalam hal ini Freeport Indonesia, sudah biasa melakukan "safari" ke berbagai pimpinan partai, tokoh-tokoh berpengaruh, hingga lembaga besar negara.

"Kalau melihat pertemuan saya dengan pemimpin Freeport (Freeport Mcmoran, James Moffett) November 2014, 'Pak Moffet dan seluruh pimpinan Freeport saya minta, saya tahu Anda sudah lama di sini dan network-nya banyak,'" ujar Sudirman menceritakan pertemuan dengan James Moffett.

Mantan Dirut Pindad itu meminta Freeport untuk tak lagi memandang Indonesia sebelah mata seperti 30-40 tahun silam.

Saat itu, tutur Sudirman, Indonesia memang kekurangan ahli-ahli tambang. Namun, saat ini, ceritanya sudah berbeda. (Baca juga: Kasus Freeport dan Kepastian Investasi)

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Berdasarkan dokumen masa silam, kata Sudirman, perusahaan tambang terbesar di Indonesia itu selalu melakukan aksi berkeliling ke elite-elite politik nasional. Biasanya, hal itu dilakukan sebelum kontrak tambang habis.

"Saya bilang, 'Saya tidak ingin Anda (Freeport) berkeliling ke teman-teman politik untuk menekan saya. This is not going to work. Saya ingin kajian profesional. Jika bertemu siapa pun, seolah akan memengaruhi, ini sesuatu yang salah.' Mengapa saya sampaikan itu, kalau melihat dokumen, itulah yang terjadi selama ini," tutur Sudirman.

"Safari" politik Freeport itu kerap digunakan untuk menekan atau memengaruhi pejabat. Parahnya, bak gayung bersambut, ada saja segelintir elite politik ikut-ikutan jadi pemburu rente, entah minta bagian saham atau proyek. (Baca juga: Tak Kunjung Tawarkan Divestasi, Freeport Terancam Dinyatakan "Default")

Menyadari tanggung jawab membersihkan para pemburu rente di sekitar tambang, Sudirman meminta Freeport membuat laporan berkala terkait pada pertemuan apa pun, dengan siapa pun, khususnya dengan elite-elite politik. 

Dalam perjalanannya, Sudirman mengaku sering mendapatkan informasi setiap kali Freeport melakukan "safari". Rupanya, selain bertemu pimpinan lembaga negara, Freeport juga kerap mendatangi pimpinan partai-partai politik.

Setiap poin pembicaraan pertemuan itu disampaikan kepada Sudirman. Sayang, Menteri ESDM tak mengungkap identitas tokoh-tokoh yang ditemui Freeport dalam rangka kegiatan "keliling" itu.

"Sampai di satu titik, pimpinan Freeport diminta bertemu Ketua DPR. Pak Maroef agak kebingungan. Nah, untuk membuat pertemuan lebih elegan, akhirnya mereka menulis surat, bertemu DPD, MPR, dan DPR sekaligus. Ini forum perkenalan pimpinan Freeport ke institusi politik," kata Sudirman.

Khusus dengan DPR, pertemuan yang sejatinya untuk pimpinan DPR dan pimpinan Freeport dikondisikan agar pertemuan itu hanya dihadiri segelintir orang, yakni Ketua DPR RI Setya Novanto dan Direktur Utama Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin serta seorang pengusaha bernama Riza Chalid.

Baca juga: Sudirman Said Blakblakan soal Freeport dan PetralDapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.